Di hampar rerumputan yang hijau tenang,
terduduklah seorang gadis berkerudung senja.
wajahnya lembut bagai cahaya fajar
yang jatuh perlahan di bibir bumi.
Tangannya terlipat rapi di pangkuan,
seolah menyimpan rahasia halus
yang hanya angin sore berani membaca.
Dalam tiap gerak yang teduh dan sederhana,
ada kelembutan yang semesta pun segan mengusik.
Ia menunduk bukan karena malu,
melainkan karena hatinya terlalu penuh
oleh sunyi yang manis dan harapan yang halus.
Dan barang siapa memandangnya,
niscaya akan menyangka waktu berhenti sekejap
untuk memberi ruang pada keindahan yang jarang ditemukan.
Senyumnya lirih, laksana kuntum bunga
yang enggan merekah namun tetap menawan;
matanya bening, memantulkan cahaya
seperti telaga yang tak pernah berkata dusta.
Dialah gadis yang menghadirkan teduh—
bahkan dalam diamnya, dunia seolah bersujud.
Dan orang ketiga yang memandang dari kejauhan
tak bisa tidak,
kecuali berbisik dalam hati:
“Sungguh, ada kecantikan yang tak membutuhkan sorak,
cukup duduk di bumi, lalu semesta yang bertepuk.”
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.