RINDU YANG TIDAK PERNAH DIAKUI

Tentang kerinduan

RINDU YANG TIDAK PERNAH DIAKUI

“Kok handsock  nya udah gak dipake?” sederhana, tapi menampar. Cukup keras.  

Aku memandangi pergelangan tangan, terdiam. Bukan, bukan tidak punya. Benda itu menumpuk di lemari, pindah-pindah posisi, berserakan digeser kerudung baru atau pakaian lain. Aku tidak berniat merapikan, apalagi memakainya.

“Gaada yang ketemu pasangannya. Tadi buru-buru.” Alasan tidak berguna macam apa itu, siapapun yang mendengarnya pasti jengkel.

Dia melirik ke bawah. “Kalau kaus kaki, juga gak ketemu pasangannya?”

Aku kalah. Aku memang salah, mencari pembelaan  sama sekali tidak ada gunanya.

Dulu, jarak math’am dan asrama yang hanya dipisahkan dinding, haram di tempuh tanpa kaus kaki dan handsock. Jaga-jaga, berhati-hati. Siapa tau abang galon tiba-tiba datang, atau bapak tukang yang membetulkan keran rusak, atau abang-abang pramusaji, atau suami ibuk dapur, atau penghuni aspa yang tiba-tiba minta tambahan makanan.

Memori itu kembali diputar ulang di kepalaku.

Hidup monoton dimulai dari mendongkol kepada qismu amni karena memaksa bangun pukul empat subuh  hingga tidur lagi larut malam. Tapi tidak pernah terasa membosankan.

Pelanggaran-pelanggaran yang selalu memancing marah ustadzah pastilah berkisar diam-diam menyelundupkan novel ke kamar, memesan mie terlarang, mengeringkan pakaian pada jam sholat jamaah, menyalakan kipas angin semalaman untuk mengeringkan seragam besok pagi, tidur lewat dari jadwal, sarapan di kamar, absen belajar kitab, dan sebagainya lagi.

Kegiatan wajib tiap pagi adalah mengukur ujung kerudung dengan jengkal, memeriksa pergelangan tangan dan kaki. Adakah yang tidak menutup auratnya dengan sempurna? Tentu tidak! Atas kesadaran diri sendiri, atas rasa malu, atas nasehat-nasehat ustadzah yang tidak pernah gagal menyentuh hati kami. Kami menjaga diri sendiri.

Adakah alasan “Tidak ketemu pasangannya. Belum dicuci, belum kering?”

Tidak akan pernah ada alasan tidak berwibawa itu. Lihat kawan, ada yang memakai ungu di sebelah kanan lalu pink di kiri. Atau sebelah panjang, sebelahnya lagi pendek. Atau memakai yang sedikit longgar karena meminjam entah punya siapa. Itu semua  adalah solusi.

 

Aku berdiri di depan cermin, memandangi pantulan diri sendiri. Mengukur ujung kerudung. Sungguh memalukan. Kerudung panjang yang dulu menumpuk telah berganti pashmina berbagai macam warna.

Beberapa tahun lalu aku juga pernah melakukan kebodohan paling memalukan. Minta izin lepas kerudung ke ibu. “Mereka berekspektasi tinggi terhadapku, bu. Mereka mengira aku baik karena kerudung lebar ini. Mereka berkomentar jahat ketika aku berbuat salah. Aku tidak mau memakainya lagi!”

Tapi untungnya, ibuku malaikat. Hatiku yang keras selalu mampu beliau lunakkan.

 

Lalu kulirik al-qur’an hafalan bercover putih di ujung meja. Kapan terakhir kali kamu khatam membaca al-qur’an sekaligus terjemahannya? Kapan terakhir kali kamu murajaah dan menambah hafalan?

Sibuk? Tidak sempat? Tidak ada waktu?

Bukankah dulu mushaf di tangan kanan, modul kimia di tangan kiri?

Bukankah dulu membawa catatan fisika ke kamar mandi?

Bukankah dulu belajar kitab sambil belajar untuk ulangan harian?

 

Bohong kalau aku bilang tidak pernah merindukan masa itu, bohong kalau aku bilang tidak peduli dengan tempat itu. Diam-diam, aku selalu merindukan rumah itu, merindukan penghuninya yang sekarang berpencar bertarung di jalan masing-masing, dan aku merindukan aku yang dulu.

 

Ternyata yang paling berat setelah memperjuangkan sesuatu adalah mempertahankan.

Dan nyata, allah itu  sayang. Selalu dipertemukan dengan lingkungan yang tidak membuat aku menjauh dari-Nya. Ternyata rencana-rencana disusun sendiri yang selalu allah gagalkan itu ada maksudnya. 

NulisKuy adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan tim editor.
Komentar

Silakan login untuk berkomentar.