“Tau nggak kenapa manusia memilih tidak selamat dalam mencintai?”
Itulah kalimat yang sering terngiang-ngiang di kepalaku sejak dulu, berulang-ulang, sampai kurasa bagai mantra yang mempunyai daya magis berupa sihir yang membunuh pikiranku sendiri. Banyak yang tahu konsekuensi dasar terlalu dalam mencintai.
Berani mencintai, berarti berani juga kehilangan.
“Kenapa ya??”
Lag-lagi, pertanyaan itu membingkai dalam kepalaku membidik logika dan akal sehatku.
Kenapa manusia memilih tidak selamat hanya karena cinta? Mungkin, barangkali karena ada bagian dari kita merasa terlalu egois, selalu merasa apa yang kita temui sepenuhnya milik kita, kita sepenuhnya ingin dimiliki orang lain, diperjuangkan oleh orang lain. Rasanya bagai orang yang berani mengancam nyawa diri sendiri, ada belati dibelakang punggung kita, memperingati kita. Untuk tetap waspada.
“Jangan terlalu memuja manusia, nanti celaka, tidak selamat hidup juga kewarasanmu.”
Hanya karena satu nama, satu wajah, satu suara. We crave that intensity — even if kill us. Aku pernah berada dalam keadaan memilih tak selamat, bagai nalar yang tak ingin bekerja, dibajak oleh sesuatu yang tidak aku pahami sepenuhnya. Berani selayaknya menantang api hingga membakar diriku sendiri.
Padahal aku tahu sakitnya, aku tahu logika sudah meraung-raung menyadarkanku, memohon dengan suah payah agar aku menyelamatkan diri sebelum malapetaka melucuti diriku karena terlalu mengelu-elukan manusia melebihi ribuan versi diriku yang telah aku bunuh hanya karena mempertahankan orang yang aku kasihi. Tetapi seolah aku selayaknya dewa yang mempunyai kekuatan kebal dan juga kekal untuk tidak merasakan namanya sekarat. Why? It was self destuction disguised as devolution.
Dan. kerap kali aku menyangkal, bahwa kalau seandainya cinta memang membuatku sakit, berarti itu tanda aku hidup.
Aku mulai banyak penyangkalan, memilih mematikan logika dan tidak menyelamatikan kewarasan. Mungkin inilah realitas menjadi manusia, manusia lebih merelakan diri mereka merasakan hancur juga terluka, daripada merasakan kekosongan luar biasa sebab kehilangan sesuatu yang bagi kita teramat berarti, karena tahu kalau seandainya rasa itu hilang, mereka tidak tidak siap akan datangnya kekosongan juga kehampaan setelahnya.
Karena bagi manusia mati rasa jauh lebih mengerikan daripada mati secara harafiah dalam keadaan abadi.
Tidak semua orang berani sendiri, tidak semua orang sanggup menghadapi bentuk kehilangan karena orang lain. Mnausia sering terlihat bahagia, terlihat baik-baik saja di hadapan orang lain, di hadapan diri sediri, bahkan, dihadapan dunia. Mereka memilih bersama dengan yang salah, karena barangkali kesepian yang menunggu diluar sana terasa jauh lebih menyeramkan melebihi apapun, termasuk lebih menyeramkan dari rasa sakit yang cukup familiar bagi mereka.
Dan dalam keadaan seperti ini aku menyadari bahwa ternyata definisi manusia memandang cinta begitu angkuh juga rapuh ya? Kita manusia terlalu bebal juga keras kepala. Dan pada akhirnya tidak semua cinta pantas bertahan, pantas ita perjuangkan, pantas menetap dan bertahan lama dalam hidup kita. Ada cinta yang sejak awal memang harus kita tinggalkan, sebelum marabahaya menghujam diri kita, membunuh diri kita habis-habisan. Maybe that’s the cruel irony of love, we call it beautiful, even when it’s killing us.
Dan mungkin memang begitu realita hidup. Kita belajar memilih tidak selamat. Tapi entah kenapa kita selalu berakhir mengulanginya lagi dan lagi.
Memilih tidak selamat.
Memilih celaka.
Karena cinta yang kita yakini.
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.