Para Pejabat yang selalu Hormat kepada Guru

Para Pejabat yang selalu Hormat kepada Guru, meski mereka adalah pemimpin tidak pernah lupa untuk menghormati gurunya

Para Pejabat yang selalu Hormat kepada Guru

Hari Guru adalah sebuah momen yang tidak terlupakan dari orang yang berprofesi sebagai guru serta orang yang pernah belajar pada seorang guru. Bagi seorang Santri, Kyai atau Ustadz adalal guru mereka. Bagi anak sekolah, bapak dan ibu guru adalah orang tua mereka. Sementara Ayah dan ibu adalah Orang tua sekaligus guru bagi anak-anaknya. Setiap insan pasti memiliki guru dalam perjalanan hidupnya termasuk mereka yang kini berprofesi sebagai tentara, polisi, Hakim juga para pejabat di negeri. Meski demikian guru tetaplah pahlawan tanpa jasa yang keberadaanya terkadang sedikit dianggap sebelah mata. Namun para pejabat dibawah ini bisa dibilang sebagai contoh bahwa meski mereka menduduki jabatan pemerintahan yang tinggi, mereka begitu menghargai gurunya. Beliau-beliau ini antara lain :

1. Sayyidina Ali bin Abi Thalib

Sayyidina Ali bin Abi Thalib dikenal sebagai sahabat, sepupu sekaligus menantu Rasulullah saw. Oleh nabi, ia diakui sebagai pintu gerbangnya ilmu karena terkenal dengan kecerdasannya. Ia adalah salah satu anggota penulis wahyu Al-Quran karena kepandaiannya. Meski kecerdasannya diatas rata-rata, Suami Fatimah bin Rasulullah begitu menghormati gurunya. Beliau mengatakan seperti dalam kitab "Ta'limul Mutaallim" bahwa beliau mengakui dengan kata" Aku adalah hamba orang yang mengajariku satu huruf", misalkan gurunya menjual kita pun tidak apa-apa. Begitu hormatnya Ayah Hasan dan Husein tersebut kepada gurunya meski ia adalah seorang Amirul Mukminin (Khalifah ke-4)

2. Umar bin Abdul Aziz

Umar bin Abdul Aziz dikenal sebagai Khalifah ke-8 Daulah bani Umayyah. Berbeda dengan khalifah dinasti Umayyah lainnya. Beliau terkenal akan zuhudnya, sederhana dan sangat menghormati gurunya. Darah Umar bin Khattab yang mengalir dalam tubuhnya melalui jalur ibu ikut mempengaruhi karakternya. Oleh sang ayah, Abdul Aziz bin Marwan dikirim ke Madina untuk menuntut ilmu kepada beberapa guru di kota nabi tersebut.

3. Harun al-Rasyid

Harun al-Rasyid adalah khalifah ke-5 Daulah Bani Abbasiyah. Pada masa pemerintahannya , Kekhalifahan Abbasiyah berada pada masa keamasannya. Wilayahnya luas begitupun ilmu pengetahuan sangat berkembang pesat. Meski seorang pemimpin, tapi beliau tidak gila untuk dihormati tetapi malah beliau sangat menghormati gurunya. Suatu hari Khalifah ke-5 dinasti Abbasiyah itu menitipkan anaknya Muhammad al-Amin dan Abdullah al-Makmun untuk menuntun Ilmu kepada imam al -Asmai. Sang Khalifah memohon pada imam al asmai agar menyuruh kedua anaknya membasuh ke kedua kaki gurunya yang mana imam al-asmai tidak mau menyuruh lantaran statusnya sebagai anak raja/amirul mukminin.

4. Raden Patah 

Raden Patah dikenal sebagai Raja pertama kesultanan Demak yang merupakan kerajaan islam pertama di Pulau Jawa. Keberhasilannya menjadi Raja di Demak juga dipengaruhi oleh darah bangsawan yang mengalir dalam tubuhnya. Beliau adalah putera Prabu Brawijaya V (Bhre Kertabhumi) , raja Majapahit yang terakhir. Ia yang terlahir sebagai muslim kemudian berguru kepada Sunan Ampel di Surabaya. Ia menuntut ilmu di Ampeldenta cukup lama hingga ia akhirnya dinikahkan dengan Putri Sunan Ampel bernama Dewi Murthosimah Asikah yang kemudian menjadi permaisurinya sebagai raja Demak. Dikisahkan meski sebagai raja, Makam raden patah di Demak tidak bercungkup, berbeda dengan makam raja Demak ke-3 Sultan Trenggono yang berada di Area bercungkup. Menurut sang juru kunci makam, awalnya makam Raden Patah itu bercungkup, tetapi selalu roboh di terpa angin. Sang Juru kunci lalu bermimpi didatangi Sultan Demak ke-1 tersebut, bahwa beliua ternyata tidak berkenan dicungkup sebagai bentuk ta'dzim pada guru sekaligus mertuanya yakni Sunan Ampel yang makamnya juga tidak dicungkup.

5. Sultan Agung Hanyakrakusuma

Sultan Agung Hanyakrakusuma adalah Raja besar Kesultanan Mataram Islam. Pada masanya, Mataram menjadi kerajaan Islam yang disegani. Wilayahnya hampir seluruh pulau jawa terutama Jawa Tengah dan Timur. Sebagai penguasa besar Kesultanan Mataram ia sangat disegani oleh negeri lain. Meski demikian ia sangat menghormati Panembahan Ratu 1 sebagai raja kesultanan Cirebon dan keturunan Sunan Gunung Jati. Panembahan Ratu I yang memiliki nama asli Pangeran Emas Zainul Arifin adalah guru spirutual sekaligus mertuanya. Ia dinikahkan dengan puteri Panembahanan Ratu I yakni Ratu Mas Tinumpak yang kemudian menjadi salah satu permasurinya.

NulisKuy adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan tim editor.
Komentar

Silakan login untuk berkomentar.

Rull
Rull
29 Nov, 2025

Keren pak guru 😎😎😎

Anda harus masuk untuk membalas komentar.