Kereta ini melaju membawa pulang rindu. Setiap hentakan rodanya seakan menyuarakan detak jantungku yang tak sabar ingin bertemu. Lima tahun. Lima tahun terlalu lama untuk hanya mengandalkan video call dan chat yang keramat. Tapi akhirnya, aku di sini, duduk di kursi dekat jendela, menatap kelamnya malam yang diselingi lampu-lampu kota yang berlalu cepat.
Aku masih ingat pesan terakhirnya, "Aku akan tunggu di stasiun, pakai jaket biru yang dulu." Jaket biru yang kami beli bersama di pasar loak, yang katanya cocok sekali dengan matanya. Jaket yang sama yang dia pakai saat kami berpisah di stasiun ini lima tahun lalu. Saat itu, kami masih mahasiswa yang penuh mimpi, harus memilih antara cinta dan masa depan.
Dia memilih untuk mengajar di desa terpencil, sementara aku menerima tawaran kerja di kota besar. "Tiga tahun saja," janjinya dulu. Tapi tiga tahun berubah menjadi lima. Lima tahun melihatnya berjuang memberi pendidikan untuk anak-anak yang haus ilmu. Lima tahun melihat foto-fotunya dengan latar belakang pegunungan hijau dan senyum polos murid-muridnya. Lima tahun menyimpan semua rindu ini.
"Tiket, Mbak." Kondektur menyadarkanku dari lamunan. Tanganku gemetar saat menyerahkan tiket elektronik. Sebentar lagi. Hanya tinggal beberapa jam lagi.
Aku masih menyimpan semua surat yang dia kirim melalui pos - karena sinyal di desanya sering hilang. Surat-surat yang ditulis di atas kertas berlipat, berisi cerita tentang muridnya yang baru bisa membaca, tentang jalan setapak yang becek saat hujan, tentang betapa dia merindukan nasi goreng buatanku yang selalu terlalu asin. Surat-surat yang telah usang dan berbau kopi itu adalah harta karunku.
Tiba-tiba, kereta melewati terowongan panjang. Bayanganku di jendela tampak jelas. Wajah yang sudah lebih tua, lebih berisi, dengan garis-garis halus di sudut mata. Apakah dia masih akan mengenaliku? Apakah cinta kami masih sama setelah lima tahun terpisah jarak dan waktu?
Saat kereta keluar dari terowongan, kabut mulai menutupi jendela. Atau mungkin ini air mataku yang mengaburkan pandangan? Aku ingat kata-katanya di surat terakhir, "Cinta kita seperti bintang, meski jarak memisahkan, cahayanya tetap sampai."
Kereta mulai melambat. Jantungku berdebar tak karuan. Stasiun kecil itu sudah kelihatan. Aku merapikan baju, mengambil tas kecilku, dan bersiap turun.
Dan di sana...
Di ujung peron...
Berdiri seorang dengan jaket biru...
Dengan seikat bunga liar di tangannya...
Dan senyum yang masih sama seperti lima tahun lalu.
Tak ada yang berubah.
Kecuali mungkin,cinta kami yang kini lebih dewasa, lebih sabar, dan lebih berarti.
"Selamat datang pulang," katanya, memelukku erat.
"Aku sudah sampai,"bisikku, menikmati hangatnya pelukan yang telah lama kunanti-nanti.
Perjalanan panjang ini akhirnya berakhir. Tapi perjalanan baru kami baru saja dimulai.
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.
Keren puisinya