Harapan Timnas Indonesia untuk tampil di Piala Dunia pertama kalinya sebagai negara berdaulat tampaknya hampir tertutup menyusul kekalahan 2-3 dari Arab Saudi dalam laga putaran ke-4 Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia. Hasil tersebut membuat timnas garuda berada di posisi juru kunci grub B.
Hasil tersebut tentu sangat mengecewakan bagi suportor setia timnas Merah Putih. Pasalnya dengan materi pemain naturalisasi yang semakin banyak dan berbiaya besar tidak bisa dikonversi menjadi tim yang disegani.
Hasil tadi malam murni kesalahan pelatih kepala Patrick Kluivert yang mengadakan sejumlah perubahan dan coba-coba pada laga sepenting ini. Yakop Sayuri yang biasa bermain sebagai winger diplot sebagai full back kanan dalam Formasi 4 bek. Hasilnya Sayuri bermain bingung dan gol ke-2 dan ke-3 murni kesalahannya. Mark Klok juga demikian. Ia seperti tidak ada di lapangan dan gagal memutus serangan lawan. Tidak memainkan Rizki Ridho yang sudah terbiasa bertandem dengan Jay Idzez di jantung pertahanan turut membuat timnas goyah. Beruntung Marteen Paes yang bermain baik mampu bermain baik dibawah mistar. Jika Paes yang baru menjadi starter pasca cidera bermain tidak maksimal tentu Indonesia akan lebih banyak kebobolan.
Sebenarnya bukan hanya soal laga tadi malam, penunjukan Patrick Kluivert oleh PSSI sudah menjadi kontroversi. Ketika negara lain memecat pelatih sebelumnya karena hasil minor, maka pemecatan Shin Tae Yong (Pelatih sebelumnya) pasca kemenangan penting 2-0 atas Arab Saudi di match day 5 ronde 3. Alasanyya karena eksperimen Pelatih asal Korea Selatan tersebut mengakibatkan kekalahan dari China 1-2 di matchday sebelumya Sehingga kemenagan atas Saudi tidak bisa dijadikan maaf kepada PSSI. Jika alasannya demikian, harusnya PK pasca laga tadi malam langsung dipecat karena ia juga bereksperimen bahkan di laga krusial seperti ini. Dengan melihat laga tadi malam, praktis PK dan staf yang dikatakan PSSI sebagai tim kepelatihan terbaik terbantahkan. Kita bandingkan zaman Shin Tae yong pada laga putaran 3, Timnas mampu meraih 6 point termasuk kemenangan atas Saudi Arabia 2-0. Indonesia juga sempat hampir menang saat bertandang ke Bahrain. Bandingkan denga era Kluivert memang sama-sama 6 point tapi harus menang susah payah 1-0 atas Bahrain dan China.
Jika pergantian pelatih adalah karena kegagalan pelatih sebelumya, harusnya tentu dengan memilih dengan reputasi yang lebih baik. Jika melihat rekam jejak, jelas STY lebih baik. STY pernah menangani sebuah tim nasional yang tampil di Piala Dunia. Di eranya, Korea Selatan mampu mengalahkan Juara bertahan Piala Dunia Jerman 2-0 pada Piala Dunia 2014. Sementara Kluivert belum sekalipun menjadi pelatih kepala peserta Piala Dunia. Ia hanya pernah memimpin Curacao (sebuah negara yang tak begitu dikenal) yang juga mendapat hasil yang kurang memuaskan.
Dari hasil tadi malam, Indonesia harus mengalahkan Irak pada 12 Oktober mendatang untuk membuka asa lolos Piala Dunia, namun hasil tersebut juga harus bergantung pada laga Arab Saudi dan Irak. Apalagi Irak juga bukan tim sembarangan. Dalam dua laga kualifikasi putaran ke-2 lalu, 2 kali kita dikalahkan Irak. Yakni 5-1 di Basra dan menyerah 0-2 di Jakarta. Kini PR besar ada pada pundak pelatih dan asisten, Pemain serta Ketua Umum PSSI sekaligus Menpora Erick Tohir, apakah pernyataan mereka bahwa tim kepelatihan Patrick sebagai yang terbaik bisa dibuktikan serta apa tanggung jawab mereka jika Timnas sekali lagi gagal meraih kemenangan.
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.