
Akhir November 2025 menjadi tanggal kelam bagi banyak provinsi di Pulau Sumatra. Hujan lebat yang berlangsung beberapa hari memicu bencana besar. Banjir bandang dan tanah longsor yang meluluhlantakkan rumah, menggenangi kampung, dan memakan banyak korban jiwa.
Menurut laporan resmi Indonesian National Police (INP), sejak 24–27 November terjadi ratusan peristiwa bencana di Sumatra Utara (Sumut), Aceh, dan Sumatera Barat (Sumbar). Di Sumut saja, tercatat 221 kejadian berupa banjir, longsor, pohon tumbang, dan angin kencang. Korban tewas bertambah terus — 43 orang meninggal, 81 luka-luka, dan 88 hilang pada Kamis (27/11). Sebanyak 1.168 orang mengungsi akibat rumah mereka porak-poranda.
Di wilayah Aceh, dampak paling parah terasa. Banjir dan longsor memaksa puluhan ribu warga mengungsi. Menurut data, sekitar 47.000 jiwa di Aceh terdampak. Pemerintah daerah di Sumbar bahkan menetapkan status tanggap darurat bencana selama 14 hari menyusul kerusakan masif akibat banjir, longsor, dan angin kencang di banyak kabupaten/kota.
Penyebab: Hujan deras & Siklon Tropis “Langka”
Laporan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa bencana ini dimulai dari hujan ekstrem—dipicu oleh bibit Siklon Tropis Senyar di Selat Malaka dan peningkatan kelembapan laut. BMKG menyatakan bahwa fenomena ini sangat langka: siklon tropis yang melintasi Selat Malaka hampir tak pernah terjadi. Artinya, curah hujan dan cuaca ekstrem yang melanda Sumatra kemarin bukan hal biasa.
Namun hujan dan badai hanyalah pemicu, tidak seluruh bencana bisa dijelaskan hanya dengan cuaca. Faktor lain juga memperparah dampaknya.
Tambang, Hutan, dan Peran Manusia dalam Bencana
Para aktivis lingkungan memeringatkan bahwa kerusakan lingkungan parah ikut andil besar dalam memperburuk dampak banjir. Menurut lembaga lingkungan, dalam beberapa tahun terakhir banyak dilakukan deforestasi besar-besaran, penebangan illegal, serta ekspansi tambang dan perkebunan di wilayah hulu sungai.
Daerah yang seharusnya menjadi “spons alami” penahan air hujan. Dengan hilangnya vegetasi dan rusaknya struktur tanah, ketika hujan ekstrem datang, air tak tertahan, tanah longsor mudah terjadi, sungai meluap, dan banjir bandang pun tak terelakkan. Dengan kata lain banyak korban menjadi korban bukan hanya hujan, tapi juga rusaknya alam akibat tangan manusia.
Hujan: Berkah yang Bisa Menjadi Malapetaka
Dalam banyak tradisi agama maupun budaya, hujan disebut sebagai berkah, rahmat yang menyuburkan tanah, menghidupkan tanaman, dan menyegarkan kehidupan. Bagi sebagian orang, hujan dianggap bagian dari takdir: air dari langit turun “sesuai takarannya” untuk memberi kehidupan.
Namun ketika manusia mengabaikan tanggung jawab untuk menjaga alam merusak hutan, mengabaikan konservasi, menebang pohon tanpa kontrol. Maka rahmat itu bisa berubah jadi malapetaka. Hujan deras yang dulu hanya memberi kesuburan, kini berubah menjadi bencana besar. Banjir dan longsor besar-besaran yang terjadi pekan lalu di Sumatra adalah peringatan keras: alam menuntut pertanggungjawaban kita.
Apa yang Bisa Kita Cermati & Lakukan Sekarang
- Perlunya kesadaran kolektif bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar pilihan — ini tugas bersama. Jika hutan terus rusak, kemungkinan bencana ekstrem akan meningkat.
- Peran aktif masyarakat dan pemerintah dalam penegakan hukum terhadap illegal logging, tambang ilegal, dan praktik perusakan lingkungan.
- Meningkatkan sistem peringatan dini, mitigasi bencana, dan kesiapsiagaan komunitas, terutama di daerah rawan banjir & longsor.
- Pola hidup dan pembangunan berkelanjutan: sebelum mengejar keuntungan ekonomi jangka pendek, pikirkan dampak jangka panjang terhadap ekosistem dan kehidupan manusia.
Kawan, bencana ini bukan hanya soal air yang jatuh dari langit. Ini soal apa yang terjadi di atas tanah: bagaimana kita memperlakukan alam.
Jika hujan adalah berkah, maka menjaga alam adalah cara kita mensyukurinya. Jika kita abaikan, maka tak heran bila titah-Nya berubah jadi ujian bagi negeri. Dan masyarakat kecil-lah yang selalu di ujung penderitaan.
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.
Intinya kita harus terus berdoa agar dijauhkan dari bencana yang sudah terjadi
Kita tidak bisa mencegah bencana , tapi kita bisa memohon dan berdoa agar dijauhkan dari bencana tersebut
Hm
Andai aja memohon sudah cukup. Tapi sayangnya manusia juga perlukan batas dari keserakahannya. Alam juga perlu dijaga. Bukan hanya dikeruk dan dieksploitasi habis2an. Trut berduka untuk para korban, mari jaga alam bersama agar kejadian seperti ini tidak terulang❤
Hmm
Hm