Di permukaan, dunia seolah dipenuhi masalah besar. Mulai dari tragedi kemanusiaan di Palestina hingga dinamika politik domestik. Namun, sering kali persoalan yang terlihat hanyalah “gejala”, sementara sumber masalah sejati tersembunyi jauh di bawahnya. Begitu pula ketika masyarakat menyoroti kegaduhan di tubuh Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Islam terbesar di Indonesia yang usianya bahkan lebih tua dari republik ini.
NU tidak hanya besar—Ia amat sangat besar. Secara historis, NU merupakan mercusuar umat, berdiri di tengah zaman bergolak untuk memberikan arah moral dan sosial. Dalam situasi itu, NU bukanlah organisasi yang mengikuti arus kekuasaan; sebaliknya, kekuasaanlah yang biasanya memperhitungkan NU. Maka ketika publik menyaksikan perselisihan internal, kekecewaan muncul bukan semata karena konflik itu sendiri, tetapi karena NU dianggap “turun kelas” dari khittah perjuangannya.
Apa Sebenarnya yang Terjadi?
Isu pertengkaran akibat kepentingan tambang memang ramai diberitakan. Namun sebagaimana konflik besar lain, persoalan semacam ini jarang berdiri sendiri. Biasanya ada tiga lapisan yang saling bertautan:
- Lapisan Ideologis
NU sejak awal mengusung tradisi keilmuan, tasawuf, dan moderasi. Bagi sebagian warga NU, membuka ruang bagi tokoh-tokoh yang berafiliasi dengan kekuatan kontroversial. Misalnya tokoh yang dianggap dekat dengan Zionis Israel. Ini adalah tindakan yang berseberangan dengan tradisi moral NU. Di sinilah perbedaan sudut pandang mulai muncul.
- Lapisan Politik Praktis
Sebesar apa pun organisasi, ketika bersentuhan dengan politik kekuasaan, gesekan hampir tak terhindarkan. NU bukan sekadar organisasi keagamaan; ia punya basis massa terbesar di Tanah Air. Wajar jika berbagai kelompok politik mencoba dekati. Namun di titik ini, muncul pertanyaan: siapa yang memanfaatkan siapa? Dan sejauh mana NU harus menjaga jarak dari kekuasaan?
- Lapisan Ekonomi dan Kepentingan Material
Isu tambang hanyalah salah satu simbol dari kepentingan ekonomi yang lebih luas. Bila benar ini menjadi pemicu konflik internal, maka persoalannya jauh lebih serius: NU tidak boleh “diperangkap” dalam pusaran kepentingan pragmatis yang mengabaikan idealisme.
NU Sudah Berjasa, Tetapi NU Harus Tetap Dikritik
Tokoh besar seperti Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari mendirikan NU sebagai wadah perjuangan moral, bukan sebagai organisasi yang mudah digoyahkan kepentingan sesaat. NU adalah pelita—memberikan cahaya, bukan meminta minyak.
Karena itu, ketika masyarakat melihat pertengkaran terbuka, drama pemecatan, atau perebutan posisi, wajar bila muncul rasa prihatin. Di tengah keprihatinan itu, kritik keras sesungguhnya bukan tanda kebencian, tetapi bentuk cinta agar NU tetap berada di rel perjuangan awalnya.
Apakah NU Akan Terpuruk?
Tidak. Selama masih ada warga NU yang benar-benar mencintai organisasinya, mengingat cita-cita pendiri, serta menjaga etika dan martabat, NU akan selalu kembali bangkit. Kekacauan internal hanyalah fase yang pernah dialami organisasi besar mana pun sepanjang sejarah.
Namun satu hal yang perlu diingat, bila benar konflik muncul karena tambang, keuntungan, atau urusan materi, maka itu bukan hanya memalukan. Tetapi juga pengkhianatan terhadap nilai-nilai luhur yang dibangun oleh para kiai pendiri.
Semoga suara-suara jernih masih terus tumbuh dalam tubuh NU. Semoga cahaya pelita yang dahulu dinyalakan Hadratussyaikh tidak padam oleh hiruk-pikuk ambisi manusia.
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.