Nostalgia Mudik dengan Kereta Api Awal Tahun 2000an

Suka dan duka berpergian dengan kereta api jaman dulu

Nostalgia Mudik dengan Kereta Api Awal Tahun 2000an

Setiap membuka tiktok saya menemukan tren traveling dengan kereta api. Apalagi jaman sekarang, fasilitas kereta api sudah jauh lebih bagus, baik dari segi pelayanannya, kemudahan untuk mendapatkan tiket, serta kenyamanan tempat duduk, toilet hingga pendingin setiap gerbong. Hal ini membuat saya mengingat masa lalu karena setiap tahunnya harus mudik dengan kereta api. Saya pengguna setia kereta api dari tahun 2000 sampai sekarang. Meskipun jaman dulu kereta api belum sebagus sekarang entah kenapa ada banyak kenangan yang saya rindukan.

Karcis yang Terbatas

Jaman dahulu, prosedur membeli karcis atau tiket harus minimal harus membeli 3 hari sebelum keberangkatan atau ada karcis tertentu yang hanya bisa dibeli dihari keberangkatan. Uniknya, untuk membeli karcis harus sesuai dengan jam-jam khusus pembukaan loket. Apabila penumpang terlambat membeli karcis maka loket tidak bisa terbuka dan otomatis gagal melakukan keberangkatan pada hari itu. Saat mendekati hari-hari cuti pada saat kantor libur, stasiun bisa dipadati oleh calon penumpang yang membeli tiket. Banyak juga penumpang yang tidak kebagian tiket meskipun sudah mengantri lama di stasiun. Belum lagi di tengah-tengah antrian, tiba-tiba tiket habis dan petugas menutup loket dengan cepat. Sehingga, ada beberapa oknum nakal yang menggunakan kesempatan ini untuk menjadi calo tiket kereta api. Harga tiket calo kereta api juga dibandrol sangat mahal mendekati hari keberangkatan. Bisa dua sampai lima kali lipat lebih mahal. Bisa dibilang mendapatkan tiket kereta api sesuai tanggal yang diinginkan sama seperti war tiket konser musik jaman sekarang. Seseru itu !

Karcis yang Berwarna-Warni

Karcis ini adalah hal yang saya suka karena warnanya yg bervariasi, bahannya yang tebal, dan bentuknya yang efisien. Selain itu, warna karcis juga menunjukan kereta api yang dituju. Ketika mengantri di loket, otomatis kita bisa menandai berapa banyak penumpang yang membeli karcis yang sama. Karcis berisi jadwal pemberangkatan, harga, dan stasiun yang dituju. Sampai sekarang, karcis kereta api jadul masih diperjualbelikan di market place sebagai koleksi dan nostalgia.

Kereta Api Penuh Sesak

Hal yang tidak mungkin terjadi di kereta api masa kini yaitu kereta api yang penuh sesak hingga ke atapnya. Jaman dahulu, sistem screening tiket sebelum masuk peron tidak seketat sekarang. Banyak orang yang diperbolehkan masuk peron termasuk pedagang, sehingga jumlah penumpang selalu membludak apalagi saat mendekati lebaran. Ada juga orang yang nekat nebeng kereta api dengan cara naik ke atapnya. Padahal hal itu sangat berbahaya dan mengancam keselamatan jiwa. Belum lagi masalah bagasi yang menambah sesaknya kereta, banyak penumpang yang membawa kardus-kardus dengan ukuran besar dan berjibun. Dengan masalah-masalah yang ada, bisa masuk ke dalam kereta api adalah sebuah prestasi karena sesulit itu.

War Kursi Kosong

Hal yang paling menegangkan saat naik kereta api yaitu pertarungan memperebutkan kursi kosong. Meskipun kursi kereta api tegak paripurna dan bikin encok punggung, masih lebih baik dibandingkan berdiri. Kursi kosong ini konsepnya seperti rezeki. Penumpang yang berdiri harus aktif bertanya dengan penumpang yang duduk dimanakah mereka turun. Jika tidak dilakukan maka bisa sampai berjam-jam berdiri atau duduk di lantai dengan alas koran.

Pedagang Asongan

Kereta api jaman dulu identik dengan penjual asongan. Penjual asongan sangat bervariatif dari makanan, minuman, mainan anak, buku bacaan, buku agama, sampai teka-teki silang. Menariknya, penjual makanan ini berganti-gantian di setiap kota, sehingga makanannya bervariatif. Contohnya saat sampai Stasiun Bangil penjual asongan menawarkan sate kerang nantinya ketika di Stasiun Madiun makanan yang ditawarkan nasi pecel. Secara tidak langsung, pedangang asongan juga memperkenalkan makanan khas daerahnya ke pengunjung kereta lho. Asyik sekali bukan, bisa naik kereta ditambah wisata kuliner khas masing-masing daerah.

Tanpa Handphone

Entah mengapa naik kereta jaman dahulu lebih bermakna. Sesama penumpang bisa berkomunikasi secara aktif saat perjalanan. Mereka dapat berbicara tanpa beban tentang kehidupan, anak, cita-cita, bahkan bisa merekomendasikan jasa atau tempat yang bagus. Beberapa orang lainnya yang pendiam, lebih suka membaca buku sambil mendengarkan musik atau bahkan hanya melihat pemandangan saja. Bapak-bapak kadang ada yang bertukar koran untuk mendapatkan informasi terbaru.

Jadi menurut kalian, lebih seru mana naik kereta jaman dulu atau jaman sekarang? Kalau saya pribadi untuk kemudahan, efisiensi, dan fasilitas kereta api jaman sekarang masih nomor satu. Namun, untuk mindfulness, kereta api jaman dulu tetap yang jadi pemenangnya.

 

NulisKuy adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan tim editor.
Komentar

Silakan login untuk berkomentar.