Penunggu Pohon Beringin

Cerita horor tentang pohon beringin tua yang dihuni makhluk gaib. Banyak kejadian misterius terjadi pada orang-orang yang berani mengusiknya, mulai dari sakit...

Penunggu Pohon Beringin

Di sebuah desa yang jauh dari hiruk-pikuk kota, berdiri sebuah pohon beringin raksasa. Batangnya begitu besar, bahkan lima orang dewasa yang berpegangan tangan pun tak cukup untuk memeluknya. Akar-akar gantungnya menjuntai seperti tirai, menutupi sebagian besar tanah di sekitarnya. Pohon itu sudah ada sejak zaman nenek moyang, dan dipercaya sebagai tempat bersemayam makhluk gaib yang menjadi penunggu desa.

Warga sekitar selalu mengingatkan, “Jangan berani-berani bermain atau mengusik pohon itu, kalau tidak ingin hidupmu berakhir celaka.” Larangan itu bukan tanpa alasan. Konon, setiap orang yang mencoba menebang atau bahkan sekadar memotong ranting pohon itu, selalu mendapat balasan. Ada yang tiba-tiba jatuh sakit parah, ada yang mengalami kecelakaan aneh, bahkan ada yang meninggal tanpa sempat ditolong.

Kisah Para Korban

Salah satu cerita yang masih dibicarakan adalah tentang seorang perantau yang tidak percaya dengan larangan warga. Ia menebang salah satu dahan kecil untuk dijadikan kayu bakar. Malam harinya, ia menjerit-jerit kesakitan, tubuhnya panas seperti terbakar, dan matanya melotot ketakutan. Sebelum meninggal, ia sempat berkata bahwa ada sosok tinggi besar berkulit hitam pekat yang mencekiknya di kamar.

Ada pula kisah seorang pemuda yang sengaja kencing di bawah beringin itu sepulang dari pesta. Sejak malam itu, ia tidak pernah tidur nyenyak lagi. Setiap kali memejamkan mata, ia selalu melihat bayangan perempuan berambut panjang dengan wajah rusak penuh darah. Tiga hari kemudian, pemuda itu ditemukan meninggal dengan tubuh kaku dan wajah membiru.

Suasana Mencekam

Pada malam-malam tertentu, terutama saat bulan purnama, pohon beringin itu tampak semakin menyeramkan. Angin yang berhembus membuat akar-akar gantung bergoyang seperti tangan yang ingin meraih siapa saja yang lewat. Banyak warga mengaku mendengar suara tangisan perempuan, terkadang berubah menjadi tawa melengking yang membuat bulu kuduk berdiri.

Beberapa kali, orang-orang yang nekat lewat di dekat pohon itu melihat sosok tinggi besar berdiri diam di bawahnya. Matanya merah menyala, tubuhnya setinggi dua kali manusia, dan baunya busuk menusuk hidung. Sosok itu dipercaya sebagai “penunggu utama” pohon beringin, makhluk gaib yang diberi tugas menjaga tempat tersebut agar tidak diganggu manusia.

Ritual dan Kepercayaan

Karena takut akan murka penunggu pohon, setiap tahun warga desa mengadakan ritual sederhana. Mereka meletakkan sesajen berupa bunga, nasi tumpeng, dan kemenyan di bawah pohon. Tujuannya adalah untuk menghormati penghuni gaib, agar tidak mengganggu kehidupan manusia. Warga percaya, selama penunggu itu diberi penghormatan, desa akan terhindar dari bencana.

Meski begitu, masih ada orang-orang yang penasaran dan mencoba mendekat tanpa izin. Ada yang kembali dalam keadaan linglung, seperti orang kehilangan akal. Ada pula yang tak pernah kembali sama sekali, lenyap tanpa jejak, seolah ditelan akar-akar pohon itu.

Pohon yang Selalu Mengawasi

Kini, pohon beringin tua itu tetap berdiri kokoh, menjadi penanda desa dan saksi bisu dari berbagai peristiwa menyeramkan. Warga hanya berani lewat di siang hari, itu pun dengan langkah cepat dan hati-hati. Namun siapa pun yang lewat di malam hari, hampir pasti merasakan hal sama: bulu kuduk berdiri, udara mendadak dingin, dan perasaan seolah sedang diawasi oleh sepasang mata yang tak terlihat.

Konon, penunggu pohon beringin itu masih ada hingga kini, menjaga wilayahnya, menuntut penghormatan, sekaligus mengingatkan manusia agar tidak sembarangan mengusik sesuatu yang bukan miliknya.

NulisKuy adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan tim editor.
Komentar

Silakan login untuk berkomentar.