Pesugihan Kandang bubrah

Sebuah rumah baru di desa Jawa dibangun tanpa ritual kandang bubrah. Awalnya tampak biasa, tapi segera muncul teror gaib: suara gamelan di...

Pesugihan Kandang bubrah

Tumbal Kandang Bubrah

Di tanah Jawa, ada satu tradisi kuno yang jarang dibicarakan, namun tetap diam-diam dipercaya oleh masyarakat pedesaan: kandang bubrah. Ritual ini dilakukan ketika seseorang membangun rumah baru. Konon, rumah yang berdiri tanpa tumbal kandang bubrah akan mengundang bala—kesialan, penyakit, bahkan kematian.

Tumbal itu bisa berupa sesajen khusus, hewan, bahkan pada zaman dahulu, dipercaya harus ada “nyawa pengganti” agar rumah benar-benar aman ditinggali. Kepercayaan ini dianggap menyeramkan, namun banyak kisah nyata yang membuat orang tak berani mengabaikannya.

Beberapa tahun lalu, sebuah keluarga muda pindah ke sebuah rumah megah di tepi desa. Rumah itu dibangun dengan biaya besar, berdiri megah di atas lahan luas. Namun sejak awal, warga sekitar sudah berbisik-bisik, karena keluarga itu menolak melakukan ritual kandang bubrah.

“Semua hanya mitos,” kata sang kepala keluarga, sambil tertawa kecil setiap kali tetua desa mengingatkan. “Kami percaya pada Tuhan, bukan pada tahayul.”

Awalnya, semua berjalan normal. Namun sejak malam pertama, gangguan mulai terasa. Saat tengah malam, mereka mendengar suara glodak-glodak seperti kayu jatuh dari atap. Tapi ketika dicek, tidak ada apa-apa.

Hari berikutnya, anak perempuan mereka tiba-tiba sakit panas tinggi. Dalam tidurnya, ia meracau, menyebut-nyebut nama asing, “Mbok Roro... jangan ambil aku... jangan ambil aku...”

Gangguan semakin parah. Ibu rumah tangga itu sering mendengar langkah kaki berputar di sekitar rumah, padahal semua pintu terkunci. Aroma melati yang pekat memenuhi ruangan, terutama menjelang dini hari.

Suatu malam, sang ayah terbangun karena mendengar suara gamelan Jawa yang mengalun sayup-sayup dari arah ruang tengah. Saat ia mengintip, terlihat sekilas bayangan banyak orang duduk bersila, seolah sedang menggelar upacara. Namun begitu ia menyalakan lampu, ruangan kembali kosong.

Tetua desa memperingatkan mereka lagi:

“Kalau tumbal kandang bubrah tidak dipenuhi, arwah penunggu akan mengambil nyawa penghuni rumah. Tidak ada yang bisa melawan.”

Namun keluarga itu tetap tidak percaya. Hingga akhirnya, malapetaka benar-benar terjadi.

Beberapa minggu kemudian, sang nenek yang tinggal bersama mereka ditemukan tak bernyawa di ruang tengah. Matanya melotot, mulut terbuka lebar seperti menjerit, namun tak ada suara keluar. Anehnya, di lantai sekitar tubuhnya tercium bau anyir bercampur bunga melati yang menyengat.

Kematian itu dianggap warga sebagai tumbal pertama. Namun sayangnya, itu tidak menghentikan teror. Justru sejak saat itu, rumah semakin angker.

Orang-orang yang lewat malam-malam sering melihat sosok perempuan berambut panjang berdiri di teras, memandang kosong ke arah jalan. Ada pula yang mendengar suara anak kecil menangis dari dalam rumah, meski keluarga itu sudah lama pindah.

Akhirnya, keluarga tersebut tak kuat lagi. Mereka meninggalkan rumah itu dalam keadaan terburu-buru, hanya membawa pakaian seperlunya. Hingga kini, rumah megah itu kosong tak berpenghuni, cat dindingnya mulai pudar, pekarangan dipenuhi rumput liar.

Namun teror masih ada. Kadang, warga desa mendengar suara gamelan dari dalam rumah kosong itu. Ada juga yang mengaku melihat nenek yang sudah meninggal duduk di kursi ruang tamu, menatap hampa.

Orang-orang percaya, ritual kandang bubrah yang diabaikan membuat roh penunggu rumah marah. Tumbal sudah diambil, tapi ternyata belum cukup. Arwah penasaran masih menagih nyawa baru.

Dan setiap kali ada orang yang berani masuk rumah itu, selalu ada saja kejadian aneh: tubuh panas mendadak, telinga berdenging, bahkan pingsan tanpa sebab. Warga menyebut, rumah itu kini sudah “meminta tumbal baru” untuk menggenapi ritual kandang bubrah yang tak pernah selesai.

 

NulisKuy adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan tim editor.
Komentar

Silakan login untuk berkomentar.