Berminggu-minggu aku bertanya, adakah cinta yang akan datang menyapa? Aku, yang seperti ini, terluka, tertatih, membawa beban dunia di hati. Aku yang menangis saat gelap saat fajar dirampas oleh datangnya petang. Cengeng? Rapuh? Lemah? Adakah yang bisa melihat diriku? Yang tak sempurna, yang penuh cacat dan kurangnya? Tapi tetap setia? Di mana kamu, yang akan mencintaiku? Kapan aku bisa bertemu? Kenapa tak sekarang? Di saat aku butuh bahu untuk bersandar, di saat jiwa yang hampir sekarat akibat kasih sayang yang pernah aku rasakan.
Kenapa ya kasih sayang itu seperti harga yang mesti kupatok tinggi?
Barang mewah yang tak bisa kubeli? Padahal aku hanya ingin, sedikit saja, tak usah penuh. Tak usah banyak.
Apakah aku musti menukar hati ini demi sekeping kasih sayang untuk pria yang aku sayang, pria itu tahan demi membayar suatu kedatangan yang lebih indah? Atau aku mesti berjudi dengan harapan, menunggu giliran yang tak kunjung datang?
Kasih sayang kini jadi taruhan, seperti emas yang tak bisa kutambang.
Aku menunggu, meraba-raba dalam gelap, tapi harga terus melambung, dan yang kuterima hanya kepingan yang berkarat, hanya akan sekarat.
Apakah benar, kasih sayang itu mahal? Ataukah aku yang tak punya cukup? Kamu tahu, seringkali aku merasa seperti pengemis di tepi jalan, mengulurkan tangan pada cinta yang tak pasti datang, mengemis secuil perhatian yang kamu berikan separuh hati, sementara aku aku nyaris limbung dikecup udara, mengharap akan suatu tak pasti. Ada hari-hari di mana aku lelah, merasa seperti bertaruh nyawa akan suatu kedatangan.
Kenapa ya, kasih sayang itu seperti harga dan barang yang terlalu mahal? Haruskah aku terus mempertaruhkan segalanya? Termasuk harga diri bahkan – bertaruh nyawa, demi seseorang yang kudamba dengan penuh cinta?
Aku sudah lelah, Tuhan, melawan badai sendiri, berdiri di ujung keputusasaan. Aku takut, takut menjadi gila, takut terperangkap dalam gelap yang tak kunjung reda.
Tolong, datangkan yang benar dan tepat, yang bisa mengusir badai dan keruhnya ini kepala.
Jangan biarkan aku terus berjuang sendirian, berharap pada sesuatu yang tak pernah pasti. Aku ingin tahu rasanya, dicintai tanpa harus takut kehilangan. Tuhan, aku mohon, sekarang. Tuhan, aku mohon, sekarang, di saat hati ini yang diakari duka, dipupuk oleh tangis dan juga luka, di saat jiwa ini nyaris tak berdaya. Aku ingin tahu rasanya dicintai tanpa syarat, tanpa harus berpura-pura kuat setiap kali tersungkur, jatuh, babak belur dan luka-luka sekalipun. Berapa lama lagi aku harus menunggu? Berapa banyak lagi malam-malam sepi yang harus kulewati? Aku lelah menatap langit gelap tanpa bintang, menunggu jawaban yang seakan tak pernah datang.
Jika cinta memang ada untukku, mengapa rasanya begitu jauh, seolah tak tergapai, selayaknya matahari dan juga bulan yang seharusnya membersamai? Setiap detik yang berlalu hanya menyisakan perih, mengguratkan luka yang semakin dalam di hati dan rasanya cukup dicabik-cabik, tersungkur dan berakhir mati rasa diriku ini.
Aku bukan meminta yang sempurna, hanya seseorang yang bisa melihat aku apa adanya. Yang tak akan pergi saat badai datang, yang mau tetap tinggal meski aku terpuruk dalam duka juga kelemahan. Tuhan, aku memohon dengan seluruh jiwaku, datangkan dia, yang bisa mencintai tanpa keraguan, yang mampu merangkulku dalam gelap dan terang dan menghapus segala takut yang selama ini mengurungku.
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.
Pagiii ✨