Malaikat Itu Bernama “IBU”

Tangannya kasar, namun di telapak kakinya ada surga…

Malaikat Itu Bernama “IBU”

Setiap orang selalu memiliki harapan untuk meraih masa depan yang cemerlang, mereka menyebutnya dengan istilah ‘Cita-cita’…

Sama halnya dengan seorang wanita berparas cantik, cerdas, keluarga cemara dan terpandang, hidup serba berkecukupan, bahkan lebih dari kata cukup. Banyak orang menyukainya, banyak orang menyayanginya. Ia memiliki harapan yang sangat mulia.

“Aku ingin menjadi seseorang yang berguna bagi orang lain. Aku ingin membantu mereka terlepas dari rasa sakit yang dialami”…

Bukankah untuk mencapai harapan itu perlu biaya yang tidak sedikit? Satu kalimat yang diucapkan dari cinta pertamanya, “Gapailah, ayah sanggup mewujudkan itu”…

Tiada hari tanpa belajar, tiada hari tanpa bermimpi. Harapan untuk memakai jas putih semakin dekat dirasa. 

Namun, apa yang bisa dilakukan jika takdir berkata lain? Cinta pertamanya telah dipanggil oleh sang pemilik kehidupan. Mata berkaca-kaca, tangan gemetar. Kaki seolah tak mampu menahan beban di atasnya.

Pelindungnya telah tiada. Sosok yang selalu berkata ‘Iya’ untuk setiap mimpi putri kecilnya itu, kini tersimpan dibalik papan, beristirahat untuk selama-lamanya. 

Bagaimana dengan harapan mulia itu? Apakah masih bisa diwujudkan? Mustahil untuk tetap melangkah di saat tempat bersandar telah tiada.

Berat hati ia melepaskan, membiarkan mimpi itu terbang bebas tanpa arah, menjadi angan-angan yang takkan pernah terwujud. 

Beruntungnya semesta masih memberi kesempatan kepadanya. Ia memang tak bisa menjadi penolong bagi banyak orang, namun siapa sangka? Ia menjadi penyembuh untuk keluarga kecilnya…

Wanita cantik nan cerdas itu kini telah bergelar sebagai seorang ibu. Melepaskan segala kemewahan hidup, mengubur dalam-dalam sinar mimpi itu. Memilih untuk mengurus dan membesarkan amanah yang dititipkan Tuhan, putri kecilnya. 

Ibu adalah alaram terbaik di dunia. Ketika kau meminta dibangunkan jam 7, ia akan membangunkanmu jam 6 dan mengatakan bahwa sekarang jam 8. 

*Ibu.. Terima kasih atas segala cinta yang diberikan tulus kepada putrimu. Terima kasih untuk semua hal yang diajarkan, besar kecil, keras lembut. Aku tahu itu bukan penyiksaan, tapi cara untuk melawan dunia. 

Kalimat bahwa “Dunia ini keras, hanya mereka yang memiliki keberanian yang mampu bertahan hidup” memang benar adanya. 

Aku tidak tahu, akan seperti apa kehidupanku nanti jika ibu tiada. Kuharap, aku mampu bertahan melewatinya. Meski tak yakin, tapi aku sadar, setiap orang ada masanya dan setiap masa ada orangnya.

Jika dikehidupan berikutnya aku diberi kesempatan untuk berada di bumi kembali, jadilah ibuku sekali lagi.

Jika hanya ada satu tempat yang tersisa di surga itu, aku rela memberikannya kepadamu. 

Terima kasih atas segala pengorbanan dan luka yang disimpan bertahun-tahun lamanya,  yang hanya engkau dan Tuhan yang tahu. Aku tahu ini tidaklah mudah, tapi aku bangga kau bisa melewatinya. 

Cintaku akan terus tumbuh untukmu, doaku akan selalu menyertaimu, meski ada dan tiadanya kau di dunia ini suatu saat nanti. Tak peduli seperti apa rupamu, aku tetap bangga menunjukkan ke seluruh dunia bahwa kau ibuku.

Salam cinta, putri sulungmu❤️

NulisKuy adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan tim editor.
Komentar

Silakan login untuk berkomentar.

NulisKuy Media
NulisKuy Media
17 Nov, 2025

Trimakasih ibu ✨✨

Anda harus masuk untuk membalas komentar.