Ketika Narasi Salah Arah: Belajar Empati dari Kasus Viral Boikot Trans7 dan Dunia Pesantren

Kasus boikot Trans7 karena tayangan Xpose Uncensored yang menyinggung pesantren jadi pengingat pentingnya empati lintas budaya. Bagaimana media bisa lebih bijak menarasikan...

Ketika Narasi Salah Arah: Belajar Empati dari Kasus Viral Boikot Trans7 dan Dunia Pesantren

Beberapa waktu terakhir, lini masa X dan TikTok ramai dengan tagar #BoikotTrans7.

Pemicunya: tayangan Xpose Uncensored di Trans7 yang menyinggung kehidupan pesantren dan kiai, khususnya terkait cara santri menghormati guru mereka.

Bagi sebagian orang, mungkin ini hanya potongan konten. Tapi bagi kalangan pesantren, narasi itu terasa menyakitkan—karena menyentuh hal paling mendasar dalam tradisi mereka: adab dan penghormatan terhadap ilmu serta guru.

https://www.instagram.com/p/DPxqqQQkbTT/?igsh=MWd3b2E0YzUzM21sag==

Heboh singgung Pesantren Lirboyo, Trans7 minta maaf

Beda Budaya, Beda Bahasa Hormat

Hidup di pesantren punya “bahasanya” sendiri.

Cara santri menghormati kiai tidak bisa disamakan dengan relasi guru–murid di sekolah umum.

Ada nilai ta’dzim — penghormatan lahir dan batin terhadap guru — yang menjadi bagian dari pendidikan karakter dan spiritualitas di pesantren.

Jadi ketika nilai seperti itu diangkat tanpa konteks, media bisa terjebak dalam framing yang salah: seolah-olah penghormatan itu berlebihan atau tidak rasional.

Padahal, menurut tradisi pesantren, ta’dzim adalah cara menjaga berkah ilmu. Sesuatu yang tidak bisa diukur dengan kacamata budaya luar semata.

Media dan Tanggung Jawab Narasi

Media punya peran besar dalam membentuk cara publik memahami suatu kelompok atau budaya. Sekali framing-nya keliru, dampaknya bisa panjang: stigma, salah paham, bahkan ketegangan sosial.

Dalam studi Framing Public Perception: A Narrative Review of Media's Influence in the Digital Era (Communica Journal, 2023) disebutkan bahwa pemilihan kata, visual, dan sudut pandang media sangat menentukan persepsi publik terhadap suatu isu.

Sementara artikel open access di Media and Communication (Cogitatio Press, 2024) menegaskan bahwa media bukan sekadar “cermin realitas,” tapi juga “pembentuk realitas.” Artinya, narasi yang disajikan media bisa memengaruhi bagaimana masyarakat menilai sebuah komunitas — termasuk pesantren.

Karena itu, membicarakan budaya lain menuntut rasa hormat dan kehati-hatian.

Kata-kata bisa menjadi jembatan pemahaman, atau justru sumber luka sosial.

Itu sebabnya, ketika membahas tradisi atau komunitas tertentu, media perlu memahami konteks budaya sebelum membuat generalisasi.

Kata-kata bukan hanya alat cerita, tapi juga cermin empati.

Refleksi untuk Kita: Jadi Audiens yang Tidak Gampang Menghakimi

Namun tanggung jawab bukan hanya di pundak media.

Kita sebagai audiens juga punya peran penting: menonton dengan empati.

Sebelum ikut menghakimi atau ikut “ramai-ramai marah,” ada baiknya bertanya:

“Apakah aku benar-benar paham konteks budaya yang dibahas?”

Dalam panduan “Media and Information Literate Citizens: Think Critically, Click Wisely!” (UNESCO, 2023) dijelaskan bahwa literasi media bukan cuma tentang memeriksa fakta, tapi juga mengenali bias, framing, dan konteks budaya dari setiap konten yang kita konsumsi.

Dengan begitu, kita bisa jadi audiens yang lebih bijak:

Tidak mudah tersulut, tapi tetap kritis dan penuh empati.

Intinya: Hormat pada Budaya, Bijak dalam Narasi

Kasus Xpose Uncensored di Trans7 seharusnya tidak hanya berhenti di seruan boikot.

Ini bisa jadi momen refleksi bersama: bagaimana seharusnya media menarasikan budaya yang bukan miliknya dengan hati-hati, tanpa menghapus maknanya, dan bagaimana publik belajar memahami perbedaan dengan empati.

Karena pada akhirnya, hormat pada budaya lain adalah bentuk paling sederhana dari kemanusiaan.

NulisKuy adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan tim editor.
Komentar

Silakan login untuk berkomentar.