Cintai Aku Dari Surga

Part 1. Seorang laki-laki yang begitu sulit jatuh cinta, akhirnya menemukan pelabuhan terakhirnya dengan seorang wanita sederhana yang ternyata selama ini tidak...

Cintai Aku Dari Surga

"Dek, aku bukanlah orang yang pandai merangkai kata, bagiku kamu adalah perempuan yang tepat untuk menjadi ibu bagi anak-anakku kelak, maukah kamu menikah denganku, Dek?" tanya Sandi di hadapan perempuan pilihannya. Waktu itu tepat di malam tahun baru, Sandi sudah membulatkan tekatnya untuk melamar kekasihnya.

Vina, perempuan yang sudah berhasil meruntuhkan benteng pertahanan seorang Sandi yang di kenal banyak orang, seorang laki-laki yang pernah disakiti seorang perempuan dan membuatnya menjadi laki laki dingin terhadap lawan jenisnya kecuali kepada saudara perempuannya maka dia akan selalu bersikap lembut. Karena sejujurnya, Sandi adalah laki-laki penyayang dan lembut juga suka memberi.

Vina menggigit bibir bawahnya, antara senang dan terharu. Laki-laki yang mengisi hatinya selama dua bulan ini melamarnya tepat dihadapan orang tuanya. Mereka berdua adalah pasangan yang sama-sama pernah disakit oleh sang mantan.

Vina melihat ibunya meminta persetujuan, setelah mendapatkan anggukan dari sang ibu, Vina pun menjawa dengan mantap.

"Aku bersedia menikah denganmu, Bang."

Mata Sandi berkaca-kaca, diusianya yang sudah memasuki kepala tiga, akhirnya akan segera melepaskan masa lajangnya. 

"Terima kasih, Dek, aku sangat senang mendengarnya, aku pikir tadi kamu akan menolakku karena aku bukanlah laki-laki yang kaya."

"Bang, jangan menilaiku seperti itu, kita akan berusaha bersama untuk membangun masa depan rumah tangga kita, semuanya kita mulai dari nol," kata Vina menatap lembut Sandi.

Kesederhanaan Vina itulah membuat Sandi jatuh cinta dan memantapkan pilihannya, ia yakin walaupun belum lama mengenal Vina, pilihanya pasti tidak akan salah.

"Kalau begitu, dua hari lagi aku dan keluargaku akan datang ke sini untuk membahas rencana pernikahan kita, bolehkan, Tante?" Sandi bertanya kepada calon mertua perempuannya.

"Sangat boleh, Nak, terima kasih sudah memilih, Vina. Dengan begitu, Tante pun sudah bisa tenang jika suatu hari nanti, Tante menyusul ayah mertuamu," ucap wanita separuh baya itu, matanya berkaca kaca.

"Bu, jangan bicara seperti itu, ibu pasti umur panjang, aku mau, Ibu nanti yang mengurusku kalau aku punya anak, jadi tolong jangan berpikiran macam-macam ya,  Bu, Vina akan sedih mendengarnya." Vina memeluk ibunya.

"Ia, kita semua pasti umur panjang, jangan sedih lagi," balas Bu Rinta seraya membalas pelukan anak bungsunya itu.

Namun, tiba-tiba Bu Rinta merasakan sesak di dadanya.

Bersambung.

NulisKuy adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan tim editor.
Komentar

Silakan login untuk berkomentar.