Sang purnama terus berotasi, semestapun memberi perintah “Pisahkan mereka”…Secepat itukah? Kami bahkan belum memulai. Naluri berkata “Tak apa, mungkin belum waktunya. Jika memang untukmu, kalian akan bertemu”…
Ya, kau benar. Menambah rasa sabar bukanlah suatu hal yang sulitkan?
Ucapan naluri menjadi nyata, empat netra bertemu kembali. Mungkinkah sudah saatnya?
Lagi dan lagi aku salah menduga. Mengapa alam sangat gemar bermain? Ataukah kau yang tidak cukup berani untuk memulai? Haruskah aku yang bergerak dahulu? Sangat tidak mungkin.
Di tengah keramaian manusia, netraku selalu terjaga. Berharap kau ada di sana, meski tidak mungkin. Anganku selalu berandai “Apa yang harus kuucap dahulu jika pertemuan itu terjadi nanti?”…
Rasanya terlalu lama untuk menunggu satu kali revolusi. Tapi tak mengapa, asalkan puncaknya dirimu. Namun, bagaimana jika ternyata puncak itu tak bisa kugapai?
Sepasang netra itu terlalu senyap, mustahil untuk mendapat kabarmu. Dengan segala keberanian, aku mengembara mengikuti pengikutmu. Berharap satu hal sederhana “Barangkali senyummu ada di sana”...
Keberanian itu membuahkan hasil, beberapa momen senyummu terekam jelas dalam neuronku. Sedikit kutambahkan skenario “Bagaimana jika aku yang berada di sampingnya?”…
Sangat manis, tapi terasa “MUSTAHIL”.
Rasa sakit mulai menyerang kardio ketika netra tak sengaja menangkap gambar dirimu dengan seorang wanita. Gambar itu layaknya toksin yang tidak memiliki detox.
Apakah ia sudah lama membersamaimu? Bahkan jauh sebelum langit mempertemukan kita? Jika iya, ternyata aku yang terlalu berlebihan dalam membuat skenario.
Lantas, mengapa sikapmu seolah memberi sinyal untuk mendekat? Bukankah itu terlalu jahat?
Untuk kesekian kalinya, kedatangan seseorang ternyata hanya untuk pembelajaran, bukan ditakdirkan untuk berlayar. Tak mengapa, jika pada akhirnya pertemuan kita bukan untuk bersama, semoga namaku tetap ada dalam ingatanmu. Meskipun tidak memiliki tempat tersendiri, setidaknya aku ada di sana.
Terima kasih sudah menjadi bagian terpenting dalam perjalanan panjang ini. Entah akan bertemu lagi atau tidak, jika hal itu terjadi, kuharap kau punya keberanian untuk sekedar menyapa. Tak apa, ini bukan salahmu, rasa ini yang terlalu berlebihan. Kita memang bertemu, namun kau bukan untukku. Kau masih pemenangnya, namun aku takkan mengharapkanmu lagi.
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.