Aku, Kau dan Ketidakmungkinan (Part 1)

Sebuah perasaan yang hebat, namun tidak memiliki makna apa-apa…

Aku, Kau dan Ketidakmungkinan (Part 1)

Ketika dua orang asing dipertemukan di suatu wilayah terpencil, langit seolah berkata “Sudah waktunya”…

Rencana Tuhan memanglah sangat unik, dari sekian banyak tempat di permukaan bumi yang luas, kita bertemu di sini. 

Tatapan seolah-olah tak percaya “Ternyata ada manusia seperti ini”…
Satu kata yang langsung terlintas dalam benak tanpa aba-aba “Sempurna”…

Namun kata itu tidak terlalu istimewa, sehingga aku berpikir “Itu hanya suatu kebetulan yang tak memiliki makna apapun”…

Hingga pada suatu ketika, dua pasang netra saling bertemu siang itu. Tak kusangka, netra milikmu seolah terkunci pada sesuatu yang ada di depannya. Tidak lama, hanya dua detik. 

Kupikir hanya sebuah kebetulan, ternyata sepasang netra itu kembali melihat ke arah tempatku berdiri, lalu tersenyum simpul. Di barisan antri, aku berjarak tiga orang dari belakangmu. 

*Jika kau melihat tulisan ini, akankah kau menyadari bahwa ini tentangmu?

Malamnya aku bertanya, “Siapa nama dari pemilik tatapan teduh itu?”…
Tak banyak informasi yang didapat, tapi itu sudah lebih dari cukup untukku ketahui.

Awalnya aku mengira itu hanya terjadi sekali saja, namun siapa sangka tatapan teduh nan menyejukkan itu menampakkan dirinya setiap hari. Sehingga, ada sedikit rasa bercampur harapan yang muncul dalam benak ini.

Bukankah ini normal? Tak perlu khawatir, aku peka. Namun, akan kutunggu pernyataan itu keluar dari mulutmu. 

Bibit bahagia mulai terasa ketika kau bertanya pada seseorang "Apakah wanita itu sudah berpunya?"...
Sedikit kemungkinan jika kita berada pada aliran yang sama. 

Beberapa kali kau mencari celah hanya untuk berkata "Hai"... 
Maaf, aku masih belum cukup siap untuk masuk ke dalam obrolan itu.

*Jika suatu saat kau mengetahui alasan ini, bisakah kita mengulang kembali peristiwa tersebut? Aku hanya ingin membantumu mewujudkan harapanmu siang itu. Sekarang aku siap. Bahkan jika kau memberikan 1001 pertanyaan, akan kujawab dengan penuh sukacita. 

Sang mentaripun beranjak perlahan, meninggalkan jejak berwarna jingga di arah barat seolah menitipkan pesan bahwa "Cobalah lagi besok"...

Namun, kau tak mencari celah itu kembali ketika sang fajar telah menampakkan dirinya. Apakah kau merasa pesimis jika hari ini gagal lagi? Ataukah kau telah merelakan jika celah tersebut ditemukan oleh orang lain? Ketahuilah, aku ingin kau yang menemukannnya. 

NulisKuy adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan tim editor.
Komentar

Silakan login untuk berkomentar.