Yuk, Baca 3 Buku Seri Pangan Nusantara Ini untuk Kenali Kekayaan Alam Indonesia Lebih Dekat Lagi

Seri Pangan Nusantara terdiri dari tiga buku tentang masyarakat adat dan potensi ketahanan pangan lokal yang dimiliki Indonesia.

Yuk, Baca 3 Buku Seri Pangan Nusantara Ini untuk Kenali Kekayaan Alam Indonesia Lebih Dekat Lagi

Indonesia dengan keberagaman suku bangsa telah dianugerahi dengan kekayaan alam yang berlimpah, termasuk keragaman pangannya. Tiap-tiap daerah memiliki potensi pangan yang khas dan belum tentu bisa ditemukan di wilayah lainnya. Sayangnya, potensi besar ini belum dimanfaatkan secara optimal, baik dari segi pemanfaatan maupun pelestariannya.

Di tengah perubahan iklim dan krisis pangan global, kita perlu menumbuhkan kesadaran akan pentingnya mengenal dan mengembangkan potensi pangan lokal. Hal ini berkaitan erat dengan pemanfaatan sumber daya alam untuk menunjang kehidupan hajat hidup orang banyak. Di samping itu, mengenali potensi sumber pangan di suatu wilayah bisa menjadi awal terwujudnya cita-cita swasembada pangan nasional.

Untuk mendukung hal itu, hadir tiga Seri Pangan Nusantara yang berisikan segala informasi perihal potensi kekayaan alam yang dimiliki Indonesia. Buku ini tidak hanya menyuguhkan uraian tentang keragaman pangan saja, tetapi juga menjelaskan filosofi, sejarah, dan makna kebudayaan yang erat dengan kehidupan masyarakat adat.

 

Ketiga buku ini ditulis oleh jurnalis bernama Ahmad Arif dan diterbitkan secara berkala sejak tahun 2019 sampai 2021 oleh penerbit Kepustakaan Populer Gramedia. Yuk, simak bersama ulasan singkat ketiga buku Seri Pangan Nusantara berikut ini!

1. Sagu Papua untuk Dunia

Buku Sagu Papua untuk Dunia

Sagu telah digunakan sebagai makanan pokok bagi manusia modern (homo sapiens), sementara Indonesia memiliki cadangan sagu terbesar di dunia. Sayangnya, potensi ini belum bisa dimanfaatkan secara maksimal. Buku Sagu Papua Untuk Dunia menyoroti peran sagu sebagai makanan pokok yang sempat populer di beberapa wilayah di Indonesia, termasuk Jawa. 

Buku ini akan dibuka dengan penjelasan soal persebaran flora dan fauna di Papua, terutama persebaran pertumbuhan sagu di Indonesia. Mengapa di Indonesia? Karena tanaman sagu rupanya tumbuh menyebar hampir di seluruh penjuru Indonesia, namun paling banyak tumbuh di Papua. Selain itu, akan dijelaskan pula nilai kebudayaan yang terkandung di balik pemanfaatan sagu.

 

Buku ini juga menyinggung tentang kelaparan yang terjadi di Papua, padahal mereka memiliki cadangan sagu yang melimpah. Hal ini membuat buku ini kian lengkap karena uraian di dalamnya dikaitkan situasi sosial dan budaya suatu wilayah. Selain itu, ada juga informasi mengenai perencanaan budidaya sagu dalam skala besar di Papua dan kendala apa saja yang dihadapi dalam pelaksanaannya. Tulisan di buku ini dilengkapi dengan dokumentasi foto dan data ilmiah sebagai sumber penunjang keabsahan informasi.

2. Sorgum: Benih Leluhur untuk Masa Depan

Buku Sorgum: Benih Leluhur untuk Masa Depan

Buku ini membahas tentang tanaman sorgum yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat NTT, terutama di daerah Flores. Dibuka dengan penjelasan mengenai mitos Tonu Wujo yang dipercaya sebagai asal mula persebaran berbagai jenis biji-bijian di wilayah Flores, membuat buku ini kian terasa dekat dengan kebudayaan masyarakatnya. Sama halnya dengan buku pertama, buku Sorgum: Benih Leluhur untuk Masa Depan memberikan informasi perihal kebudayaan dan pemanfaatan sorgum sebagai makanan pokok.

Setelah dibuka dengan mitos asal-usul sorgum yang dipercaya masyarakat, buku ini lantas mengulas tentang kekerabatan sorgum dengan tanaman lain dan penyebarannya. Setelahnya, akan dibahas secara singkat mengenai masuknya tanaman sorgum ke Indonesia. Tak lupa buku ini juga menyinggung soal kebijakan penyeragaman pangan pada masa Pemerintahan Orde Baru.

 

Kritik ini kian diperjelas dengan diuraikannya dampak kebijakan tersebut terhadap kesejahteraan masyarakat NTT. Penyeragaman pangan menggunakan beras rupanya tidak bisa menjamin kebutuhan konsumsi masyarakat serta menggeser kedudukan sorgum sebagai makanan pokok. Buku ini juga membahas perihal perencanaan sorgum sebagai alternatif makanan pokok yang cocok dengan karakteristik wilayah dan penduduk NTT.

3. Masyarakat Adat & Kedaulatan Pangan

 Buku Masyarakat Adat & Kedaulatan Pangan

Jika kedua buku pertama menyoroti tentang keterkaitan tanaman tertentu dengan masyarakat adat di suatu wilayah, buku ini justru membahas kehidupan masyarakat adat secara lebih umum. Masih mengedepankan perihal potensi pangan lokal, buku ini membahas tentang sejarah panjang persebaran penduduk Indonesia dan keragaman flora faunanya. Selain itu, terdapat pula uraian tentang masyarakat adat, tanah ulayat, dan kebudayaan mereka.

Lebih lanjut, buku ini membahas tentang hubungan antara masyarakat Indonesia dengan pangan yang mereka konsumsi. Masyarakat adat mengalami perubahan pola konsumsi yang semula memanfaatkan pangan lokal seperti sagu atau umbi-umbian, jadi beras. Topik ini tentunya didukung dengan sejarah penyeragaman makanan pokok pada masa Orde Baru dulu. 

 

Ketiga buku tersebut akan mengantarkan kita menuju perjalanan panjang menyusuri kekayaan alam Indonesia. Selain itu, buku tersebut juga mengajak kita untuk menjaga kelestarian alam demi keberlangsungan hidup masyarakat adat. Kritik kebijakan yang sempat ditanamkan pada masa Orde Baru sebagai upaya penyelarasan makanan pokok, bisa menjadi refleksi bersama agar di masa depan kebijakan dibuat lebih sesuai dengan kondisi alam dan masyarakat di wilayah tertentu.

NulisKuy adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan tim editor.
Komentar

Silakan login untuk berkomentar.