“Work-Life Balance di Era Digital: Mitos atau Bisa Dicapai?

Banyak orang mengejar work-life balance, tapi di era digital yang serba terhubung 24 jam, apakah hal itu benar-benar bisa dicapai?

“Work-Life Balance di Era Digital: Mitos atau Bisa Dicapai?

Work-life balance sudah lama menjadi topik hangat di dunia kerja modern. Di satu sisi, teknologi membuat pekerjaan lebih fleksibel. Namun, di sisi lain, notifikasi email dan chat kantor yang tak pernah berhenti justru membuat batas antara kerja dan kehidupan pribadi semakin kabur.

Tren Work-Life Balance di Indonesia

Menurut survei LinkedIn Workforce Confidence Index 2024, 73% pekerja Indonesia mengaku sulit memisahkan waktu kerja dan waktu pribadi karena budaya “selalu online”. Bahkan, 1 dari 3 pekerja merasa mengalami burnout akibat beban digital.

Meski begitu, perusahaan kini mulai mengadopsi kebijakan hybrid working dan jam kerja fleksibel untuk mengurangi tekanan.

Perspektif Ahli

Psikolog industri Ratih Ibrahim pernah menyampaikan bahwa,

Work-life balance bukan tentang membagi waktu sama rata, tetapi tentang bagaimana seseorang bisa menjalankan peran kerja dan kehidupan pribadi tanpa kehilangan kendali dan kebahagiaan.”

Strategi Mencapai Work-Life Balance

1. Buat jadwal digital detox – Sisihkan 1–2 jam tanpa gadget setiap hari.

2. Gunakan teknologi untuk efisiensi, bukan jebakan – Manfaatkan aplikasi produktivitas, bukan sekadar media sosial.

3. Komunikasi dengan atasan – Diskusikan beban kerja realistis agar tidak menumpuk.

4. Prioritaskan kesehatan mental – Aktivitas sederhana seperti olahraga ringan, meditasi, atau journaling dapat membantu menjaga keseimbangan.

Infografis Rekomendasi

  • Diagram tingkat burnout pekerja Indonesia (berdasarkan survei).
  • Grafik tren perusahaan yang menerapkan hybrid working.
  • Ilustrasi tips digital detox.

NulisKuy adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan tim editor.
Komentar

Silakan login untuk berkomentar.