Belakangan ini istilah inner child, trauma bonding, boundaries dan attachment style sering muncul di berbagai media sosial, atau bahkan dipercakapan sehari-hari. Banyak Generasi Z dengan santainya berkata "Kayaknya aku butuh terapi deh", atau "Menurutku dia tuh avoidant banget". Budaya therapy talk kini bukan hanya milik ruang konseling, tetapi juga jadi bagian dari bahasa pop culture saat ini.
Namun tiba-tiba muncul pertanyaan: apakah semua orang memang butuh terapi? Atau ini hanya tren yang membuat kita terlalu mengoreksi diri sendiri?
Terapi: Dulu Tabu, Sekarang Tren
Beberapa generasi sering kali mengaitkan terapi dengan "Kegilaan" atau masalah kesehatan mental yang serius. Tetapi bagi Generasi Z justru mendorong narasi baru, bahwa terapi bukan tanda lemah, melainkan bentuk keberanian diri untuk mengenal dan juga merawat diri. Suatu kemajuan besar dalam stigma kesehatan mental.
Terdapat beberapa publik figur juga konten kreator yang terbuka soal pengalaman mereka dalam menjalani terapi. Hasilnya, semakin banyak anak muda merasa bahwa terapi merupakan hal yang wajar dan bahkan keren.
Therapy Talk: Edukasi atau Oversharing?
Semakin populernya therapy talk, banyak juga istilah psikologi yang masuk ke percakapan sehati-hari. Hal ini bagus karena memperluas kesadaran dan pemahaman kita tentang emosi, luka batin dan juga pola relasi kita.
Di sisi lain, penggunaan istilah-istilah ini secara sembarangan bisa menimbulkan kesalahpahaman. Misalnya, tidak semua hubungan sulit berartu toxic, tidak semua orang yang cuek adalah avoidant. Saat terapi menjadi tren, ada risiko kita mulai self-diagnose atau mendiagnosis orang lain tanpa pemahaman yang utuh.
Apakah Semua Orang Butuh Terapi?
Tergantung. Terapi sangat bermanfaat untuk banyak orang, bukan hanya yang sedang mengalami gangguan kesehatan mental, tetapi juga bagi mereka yang ingin lebih mengenal diri mereka lebih dalam lagi, memperbaiki pola pikir mereka atau menyembuhkan luka emosional lama.
Tetapi tidak semua orang harus menjalani terapi. Ada banyak jalan untuk tumbuh: jurnaling, meditasi, berinteraksi dengan lingkungan yang suportif, membaca buku self-help atau mengikuti komunitas pengembangan diri.
Yang terpenting adalah kesadaran untuk terus memproses emosi dan juga belajar mengenali kebituhan diri, baik melalui bantuan profesional maupun tidak.
Normalisasi Pilihan, Bukan Tekanan
Di era budaya therapy talk, penting untuk memiliki kebebasan dalam memilih. Seseorang tidak lebih "berkembang" jika hanya pergi ke terapis. Juga yang belum terapi bukan berarti tidak peduli dengan kesehatan mentalnya. Perlu diingat bahwa jalan setiap orang berbeda-beda.
Kita perlu berhati-hati agar kesadaran kesehatan mental tidak berubah menjadi tekanan sosial yang baru, dimana kita merasa harus selalu "healed", "aware" dan juga "well-spoken" secara emosional, padahal proses setiap orang itu berbeda dan tidak bisa dipaksakan seragam.
Jadi, terapi merupakan alat dan buka kewajiban. Terapi sangat berguna bagi yang membutuhkannya namun tidak semua orang akan melewati jalan yang sama. Yang lebih penting daripada mengikuti tren adalah memiliki keberanian untuk jujur pada diri sendiri: apakah saya butuh bantuan atau hanya ingin didengar.
Kita semua sedang belajar, dengan atau tanpa terapis.
XO!
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.