Hidup kok rasanya ketinggalan banget ya? Orang-orang sudah menjadi ini itu, berhasil mencapai banyak hal, lanjut study, punya arah karir yang jelas, menemukan pasangan. Sementara aku masih diam ditempat, kebingungan, sendirian, tidak tau hidup ini arahnya kemana. Sebenarnya mereka yang larinya cepat atau aku yang terlalu lambat?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu sering muncul dikepala dan belakangan ini semakin parah, sampai mengganggu tidur. Aku tau ini pemikiran dangkal, tapi aku juga manusia.
Karena merasa terlambat dan tertinggal, kupikir aku harus lari secepat mungkin, berusaha multitasking, mengejar dan menyelesaikan banyak hal sekaligus. Mulai dengan mengerjakan berbagai side job di tengah kesibukan pekerjaan utama yang lumayan menguras energi seorang introvert sepertiku. Berusaha mencari banyak kesibukan agar tidak merasa bersalah buang-buang waktu. Sambil membenahi tanggung jawab pada keluarga yang tiba-tiba diletakkan di pundakku.
Aku membuat target-target besar yang harus dikejar tanpa peduli realita. Memaksa diri sendiri harus mencapai semua target itu bagaimanapun caranya.
Tapi semua kesibukan dan grasa-grusu yang kulakukan itu ternyata tidak menyelesaikan apapun. Bukannya membawa perubahan, malah makin membuatku berantakan. Beban yang awalnya sedikit jadi semakin banyak, masalah-masalah yang seharusnya selesai malah semakin rumit. Banyak hal jadi terlanjur kacau dan berantakan karena ulahku sendiri.
Bulan lalu setelah gagal untuk kesekian kalinya, aku memutuskan untuk berhenti sejenak. Memberikan istirahat sebagai self reward karena sudah berani menghadapi banyak gagal. Dengan penuh kesadaran aku mengganti wallpaper vision board di layar handphone dan laptop dengan foto lain.
Belakangan ini aku sadar, kalau ternyata kita tidak harus selalu berusaha keras, ternyata ambil jeda waktu buat istirahat itu tidak salah.
Kita itu manusia, bukan robot! Lagipula, apa sih yang dikejar sampai harus se buru-buru itu.
Setelah memutuskan untuk berhenti sejenak, mendengarkan fisik dan mental yang mulai capek, aku menyadari beberapa hal.
Hidup itu perjalanan, bukan lomba
Kita tidak sedang berlomba dengan siapapun, tidak perlu memaksa semuanya harus selesai cepat dan lebih dulu. Nikmati perjalanannya, jalani prosesnya.
Orang lain bukan patokan hidup kita
Kalau orang lain berhasil, bukan berarti kita harus berhasil juga.
Apa sih yang dikejar? emang ada ya patokannya yang membuat kita merasa tertinggal? emang hidup ada deadline nya? emang ada ya aturan semuanya harus cepat dan sesuai timeline tidak masuk akal yang kita buat itu?
Kita hanya disuruh berusaha, bukan berhasil!
Realistis dan berdamai dengan keadaan
Ibuku pernah bilang “gelasmu cuma satu, jangan maruk mengambil air untuk empat gelas, mau simpan dimana coba?”
Tidak semua hal bisa kita paksakan. Beberapa keadaan meminta kita mengalah, mundur, dan mengatur ulang strategi, dan itu manusiawi.
Pada diri sendiri dan kamu yang barangkali juga butuh, cuma mau bilang enjoy your life! Berhenti keras pada diri sendiri, tidak ada yang nyuruh lari, santai aja. Mari menghidupi hidup.
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.