Pernah nggak kamu berada sendirian, tapi isi kepala terasa seperti keramaian?
Segala hal yang belum tentu terjadi malah kamu pikirkan terus-menerus.
Ucapan orang kamu putar ulang berkali-kali dalam pikiran.
Gerak-gerik mereka kamu tafsirkan sendiri.
Sampai akhirnya kamu larut dalam bayangan yang kamu ciptakan,
dan lupa kalau kamu sedang berada di dunia nyata, saat ini.
Overthinking itu halus cara kerjanya.
Dia masuk perlahan tanpa disadari,
dan pelan-pelan membuat kamu meragukan semua hal—termasuk dirimu sendiri.
Mungkin saja orang lain nggak seburuk itu.
Dan bisa jadi kamu juga nggak seburuk yang kamu bayangkan.
Tapi karena terlalu banyak mikir,
kamu mulai merasa tidak pantas dicintai, selalu merasa kurang,
dan berpikir semuanya salah karena dirimu.
Berpikir berlebihan juga sering membuat kamu ragu mengambil keputusan,
sulit mempercayai orang lain,
dan pada akhirnya... kehilangan kebahagiaan.
Yang lebih menyesakkan adalah,
kebiasaan overthinking seringkali berasal dari luka lama.
Luka yang belum kamu obati, tapi kamu tutupi dengan senyuman pura-pura.
Tapi ada kabar baik:
Kamu bisa belajar untuk menguranginya.
Bukan dengan memaksa pikiran itu pergi,
tapi dengan menyadari bahwa tidak semua isi kepala harus dianggap benar.
Pikiran bisa menipu.
Perasaan bisa salah memahami.
Kamu boleh merasa, tapi jangan sampai hanyut dalamnya.
Coba tanya dirimu:
“Ini fakta, atau hanya bayanganku sendiri?”
“Ini bisa aku kendalikan, atau cuma bikin lelah?”
Kalau jawabannya cuma bikin hati makin berat,
lebih baik lepaskan.
Nggak semua harus kamu tuntaskan hari ini.
Nggak semua kebingungan perlu jawaban saat ini juga.
Kamu nggak sendiri dalam hal ini.
Banyak orang juga berjuang melawan overthinking.
Tapi kamu bisa jadi salah satu yang berhasil keluar dari lingkaran itu.
Ingatlah selalu:
Terjebak dalam pikiran sendiri tidak akan memperbaiki keadaan,
namun bisa perlahan menghancurkan segalanya.
Bahkan perasaanmu sendiri.
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.