Tenangkan Diri dengan Healing sebagai Hobi

Healing bukan sekedar hobi, tapi juga tenangkan hati

Tenangkan Diri dengan Healing sebagai Hobi

Sebagai seorang guru, ada kalanya kita mengalami kejenuhan luar biasa. Tiba di sekolah pukul 06:30 dan pulang jam 3 Sore membuat mata terasa letih dan badan terasa lelah. Bagaimana tidak setiap hari bercengkrama dengan anak didik dari berbagai latar belakang keluarga yang berbeda dengan beragam problematikanya yang dibawa. Guru tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan tetapi juga sebagai pendidik dan pembentuk karakter peserta didik. Maka tidaklah heran jika Sekolah setidaknya dua tahun sekali memerlukan waktu untuk refreshing dengan bertamasya atau healing ke tempat wisata. 

Healing sendiri memiliki arti proses penyembuhan terhadap tubuh baik lelah secara fisik maupun mental seperti stres misalnya. Dalam konteks hobi, Healing bisa diasosiasikan sebagai proses penyegaran dengan berlibur ke tempat wisata untuk melepaskan dan menyegarkan badan sejenak dari rutinitas harian. Maka jika ada yang mengatakan bahwa study tour itu tidak penting dan bisa diganti dengan foto editan dari kecerdasan Artifisial (AI) adalah tidak sepenuhnya benar. Selama healing atau dalam konteks stady tour itu tidak memberatkan maka healing ini bukan hanya sekedar hobi tetapi bisa menjadi pengalaman menyenangkan bagi yang menjalaninya. 

Saya sebagai guru dalam masa libur sekolah seperti Liburan Kenaikan kelas atau Libur akhir tahun selalu mengajak keluarga untuk bertamasya ke tempat wisata. Tentunya jika kondisi keuangan sedang baik- baik saja. Tujuan saya tidak lain adalah dalam rangka menyenangkan keluarga karena pada hakikatnya kita mencari uang selain buat sendiri tentu untuk membahagiakan orang- orang yang kita sayangi. 

Karena saya tinggal di Kabupaten Ngawi yang berada di ujung barat Provinsi Jawa Timur. Pilihan saya kalau untuk berdarmawisata selalu memilih Jogjakarta sebagai destinasi utama. Pertimbangan Daerah ini saya pilih karena mudah dijangkau dengan transportasi umum (karena saya belum punya mobil Pribadi) dari pada daerah lain Seperti ke Kabupaten Pacitan atau Trenggalek. Ke Jogjakarta kita bisa naik bus umum dan Kereta Api, sementara kalau ke Pacitan atau Trenggalek terkendala pada terbatasnya angkutan umum yang menuju kesana. Kita juga tidak memilih Bali karena daerahnya terlalu jauh untuk kita jangkau.

Secara Jarak Yogyakarta juga berada pada jarak yang cukup, tidak terlalu dekat atau Jauh. Pilihan destinasinya juga beragam. Mau merasakan keindahan Pantai bisa kita temukan di sepanjang pesisir Daerah Istimewa Yogyakarta. Deretan Pantai Pasir Hitam dari Kabupaten Kulon Progo sampai Bantul, atau kalau memilih pantai berpasir putih tinggal geser ke pesisir Kabupaten Gunung Kidul. Kebetulan saya juga hobi ke Pantai. Pantai Parang Tritis, Pantai Goa Cemara di Kab. Bantul serta Pantai Indrayanti, Pantai Kukup adalah pantai- pantai yang pernah saya dan keluarga kunjungi.

Selain senang dengan wisata pantai, sebagai pribadi yag hobi membaca sejarah, saya juga senang mengunjungi wisata sejarah. Seperti Candi Prambanan di Kabupaten Sleman yang merupakan peninggalan kerajaan Mataram Kuno. Saya juga pernah mengunjungi Monumen Jogja Kembali sebagai tanda adanya peristiwa serangan umum 1 Maret 1949. Berkunjung ke wisata sejarah memberikan makna dan ketenangan pribadi bagi saya sebagai orang yang hobi membaca sejarah. Kita seperti dibawa ke zaman dimana bangunan-bangunan bersejarah tersebut dibangun.

Tidak semua orang akan merasakan hal yang sama seperti yang saya Alami. Orang yang tidak suka sejarah pasti hanya menyepelekan. Misal hobi ke Candi Prambanan pasti di pandang "hanya batu kok dilihat". Namun demikian penulis yakin bahwa sejatinya Healing atau bertamasya sejatinya menyenangkan hati setiap orang apalagi jika undangan healing tersebut murah dan tidak butuh uang saku banyak 

NulisKuy adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan tim editor.
Komentar

Silakan login untuk berkomentar.