Cerita Awal Mula
Saya tidak pernah terpikirkan akan menjadi sasaran korban penipuan di tempat umum, sampai akhirnya hari itu tiba. Maret 2023, saya jalan-jalan di sebuah mall yang terkenal di wilayah Jawa Tengah, dengan harapan mencari angin segar. Saya tidak pernah mencurigai sama sekali, orang-orang di sekitar mall tersebut. Setelah saya puas berjalan-jalan di area lantai satu mall, saya memutuskan untuk naik ke lantai 4. Namun tiba-tiba, ada suara lembut yang mencoba mengalihkan fokus saya untuk bergerak ke arah eskalator. Saya menoleh ke arah sumber suara itu, ada perempuan cantik dengan tubuh mungil menggenggam sebuah brosur berwarna biru. Dengan cerianya dia berjalan ke arah saya. "Sebentar saja kak, 5 menit saja saya mohon waktunya", pintanya. "Ada apa ya, mbak?" tanya saya tanpa adanya kecurigaan. " Mohon izin 5 menit saja saya jelaskan, saya dari lembaga Y, akan mendeskripsikan program kami. Jadi kami membantu daerah yang mengalami kekeringan, ada banyak orang yang kurang beruntung yang belum mendapatkan air." kata dia sambil membolak-balikan brosur yang sudah lusuh yang dibawanya. Dia menunjukan gambar-gambar anak-anak yang menderita. Saya saat itu hanya mengangguk. "Oke. Saya lanjutkan ya kak. Jadi lembaga kami sedang membuka donatur baru untuk program kami. Mungkin kakaknya bisa ikut menjadi donatur baru?" tanyanya. Saya hanya berdiam diri karena menimbang-nimbang keadaan, maklum tahun 2023 merupakan tahun yang tidak mudah bagi saya. "Cuma satu botol air mineral saja kak, tidak terlalu memberatkan, " lanjutnya ketika saya berpikir keras. " Bisa pake QRIS kak ?" tanyaku. Dan saya ingat sekali dia bilang, "Iya".
"Sini kak, geser ke sini," lanjutnya sambil membawaku ke booth sumbangan itu. Saya masih heran saat itu kenapa booth itu terlihat sederhana tidak seperti lembaga yg resmi, hanya ada meja kayu kecil yang isinya formulir, brosur, dan peralatan tulis. Ada tambahan penanda kecil tentang lembaga tersebut di sudut booth itu, yang pasti bikin orang yang lalu lalang enggak bisa membaca dengan jelas. "Jadi kak, mana QRISnya?" tanyaku. "Oh, ya nanti, kami sediakan," kata dia sambil masih ribut mengeluarkan kertas-kertas dari dalam laci tersebut. Saya mengamati sekeliling booth tersebut dan perasaan saya sudah tak enak, mengapa tidak ada QRIS sama sekali?
"Saya jelaskan dulu ya kak", kata dia sambil berkutat dengan formulir-formulir mencurigakan. "Bukannya sudah ya kak tadi?" tanyaku agak bingung. "Oh ini beda jadi lembaga kami kan adalah lembaga profesional, tidak bisa begitu saja mendonasikan melalui QRIS, harus lewat jalur yang kredibel", lanjutnya. Saya sudah mulai curiga karena tidak sesuai dengan metode awal sumbangan yang dijelaskan di awal. "Jadi kakaknya harus mengisi ini, " lanjutnya sambil mengeluarkan formulir biru yang sangat lebar. Saya mengeryitkan dahi karena formulir itu tidak tampak seperti form sumbangan. Formulir itu lebih seperti form bank, dengan banyak kolom di dalamnya dan tulisan yang banyak. "Nanti kakaknya bisa memilih nominal di sini ya, " sambungnya sambil menunjuk tiga kolom uang itu. Saya mencoba memahami ini semua karena tidak masuk akal. "Kakaknya bisa milih kolom kedua ya," katanya sambil menunjuk kolom itu. " Sebentar, saya mau tanya kenapa ada tiga kolom, kemudian saya langsung disuruh milih yang kedua?" tanyaku keheranan. "Gimana ya kak, karena kakaknya pengguna baru"' jawabnya agak kurang meyakinkan. "Jadi? Hubungannya dengan kolom dua apa kak?" tanyaku. "Yah, karena yang kolom tiga untuk pengguna lama," katanya dengan nada tidak meyakinkan. " Ini beneran? kok saya jadi enggak yakin ya" tanya saya kembali. "Ya, gimana dong," wajahnya kebingungan dia sempat menoleh ke rekan kerjanya seperti minta tolong. Temannya tidak berekspresi apapun. "Percaya saja kak, kami dari lembaga profesional, ini lihat nametag saya. Boleh difoto," Jelasnya. Saya semakin curiga dengan mereka karena mereka membalik nametagnya dari awal, seolah-olah tidak ingin dikenali. Saya waktu itu sempat menghafal nama salah satu sales tersebut, sebelum mereka tutup kembali nametagnya. "Maaf kak tapi saya kurang percaya", kataku sambil menyodorkan kembali formulir kepada sales tersebut. "Tenang saja kak, kalau kakak tidak percaya, bisa menghubungi nomor ini dan memutus kontrak donasi, " kata sales itu. Seketika otakku panas mengurai kejadian ini, bukannya tadi bilangnya donasi hanya seharga satu botol mineral ya, kok jadinya ada kontrak donasi.
Saya mematung agak lama dihadapan mereka karena menimbang-nimbang apa yang akan terjadi. "Enggak usah overthinking kak, kalau kakaknya enggak yakin, bisa kok dibatalkan, gampang tinggal telepon saja. Kami di mall ini sampai satu minggu lho kalau kakaknya butuh informasi bisa lho nanti mampir ke booth kami. Yang penting isi ini dulu." rayu salah satu sales tersebut. Entah kenapa saya mengiyakan ajakannya. Saya menulis data saya secara lengkap di formulir tersebut. Sampai saya rela memberikan ATM untuk difoto. Padahal ATM bersifat privasi, apalagi tiga kode dibelakang ATM tersebut. Saya seperti terhipnotis dengan ucapan sales tersebut.
Masalah Baru Muncul
Hati saya sangat mengganjal ketika saya tiba di rumah. Entah mengapa saya gundah gulana. Jam 17.00 WIB, saya mencoba menghubungi lembaga tersebut untuk meminta mengklarifikasi. Penjelasan yang saya dapat dari customer service tersebut berbeda dengan penjelasan sales amal di mall tadi. Ternyata, sumbangan amal dilakukan sebulan sekali dengan metode pemotongan otomatis dari rekening bank. Besarnya sumbangan atau donasi ditentukan berdasarkan kolom yang terchecklist di formulir. Kolom-kolom tersebut berbeda-beda nominalnya. Kolom pertama 20.000, kedua 175.000, dan yg ketiga nominal ditentukan oleh penyumbang. Jujur saya kalut dan syok karena saya tidak mendapatkan penjelasan serinci itu. Saya mencoba memprotes dan ingin menghentikan layanan autodebet tersebut segera. Namun, customer service itu menyalahkan saya tidak membaca syarat dan ketentuan dibawah formulir. Sembari mendengarkan penjelasan customer service, saya membuka lipatan formulir. Dan benar, ada syarat dan ketentuan di bawah formulir, yang tadi tidak terlihat dan sengaja dilipat. Saya berusaha tenang dan tetap ingin menghentikan layanan autodebet. Customer service menolak dengan alasan donaturnya sangat sedikit, mereka membutuhkan donatur agar kegiatan amal mereka dapat tetap berlangsung.
Langkah-langkah yg Saya Ambil Agar Terbebas dari Kasus Ini
- Saya mencoba tetap tenang. Karena saya menyadari hal itu sepenuhnya kelalaian saya akibat kurangnya informasi.
- Saya mencoba mencari informasi ini di internet, namun sayangnya sangat minim sekali. Saya menemukan satu kasus yang serupa dengan saya di forum kaskus tahun 2015 Penulis bercerita harus waspada dengan sales-sales ini. Penulis mengungkapkan sempat terlibat cekcok karena sales amal sangat manipulatif. Saya mempelajari pola karakter mereka berdasarkan cerita penulis.
- Saya mencoba mengingat dan menulis ulang reka adegan di mall di sebuah kertas agar tidak terlupa.
- Saya membaca kembali isi formulir itu dengan teliti dari atas sampai akhir. Ternyata ada sedikit clue yang diberikan di formulir itu. Donatur bisa menghentikan kegiatan amal jika ada aalasan ekonomi selain alasan tersebut tidak bisa.
- Saya menyelamatkan uang saya dengan cara mentransfernya ke rekening lain. Karena secara tidak langsung, lembaga tersebut telah menjadi pihak ketiga. Kemudian saya memblokir kartu ATM saya secara permanen.
- Saya meng-crosscheck kasus ini ke bank cabang terdekat keesokan harinya. Customer servicer bank bercerita kasus ini memang terjadi beberapa bulan belakangan dan banyak sekali nasabah yang tidak sadar uangnya ludes secara bertahap. Customer service juga menjelaskan bahwa mereka tidak dapat menghentikan kegiatan autodebet. Satu-satunya yang bisa menghentikan autodebet tersebut adalah pihak lembaga karena mereka yg punya formulir persetujuan tersebut.
- Saya tetap gigih menghubungi lembaga tersebut dengan berbagai via. Meskipun sempat diacuhkan dan ditolak. Setelah saya spam email berkali-kali, direct message di social media, dan puluhan telepon saya yang tidak diangkat, mereka akhirnya mengangkat. Untuk perlu lepas dari jeratan autodebet mereka hanya perlu nama saya, nama sales, dan alasan mengapa ingin berhenti menjadi donatur, jika tidak bisa menyebutkan salah satu maka layanan tidak bisa dihentikan. Saya sangat bersyukur menulis semua hal secara detail kejadian di mall termasuk nama mereka.
Akhir kata, kaliian boleh berdonasi dengan siapapun, dimanapun, kapanpun, dan dengan cara apapun. Namun, pastikan cara tersebut tidak merugikan diri sendiri. Jangan hanya tertarik membantu dengan alasan kasihan tanpa mempelajari secara mendalam lembaga yang menaunginya agar kita selalu aman dan bebas dari jeratan yang bisa merugikan kita kedepannya.
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.