Langit membeku tanpa warna,
awan menggantung seperti ingatan,
yang enggan jatuh.
Kabut menari pelan, di antara pepohonan mati,
dan aku berjalan,
tanpa bayangan, tanpa suara,
hanya jejak,
yang segera ditelan bumi,
seolah aku tak pernah lewat.
Angin menyentuhku,
seperti pesan dari sesuatu yang tidak terlihat,
mungkin diriku sendiri,
yang tertinggal di tempat lain.
Tak ada burung, tak ada ranting patah,
hanya gema langkahku,
yang terdengar seperti,
bisikan dari luka lama,
yang belum mengering.
Aku berhenti, di bawah pohon kering,
yang menangis tanpa daun.
Di sana, aku memeluk sunyi,
dan sunyi memeluk balik,
lebih hangat dari manusia.
Waktu tidak berdetak di tempat ini,
hanya rasa tenggelam perlahan,
seperti tubuh di dalam danau beku,
yang tak ingin muncul lagi ke permukaan.
Dan jika aku lenyap,
biarlah itu menjadi nyanyian lembut,
di antara kabut,
di antara bisu,
di antara apa pun,
yang tidak butuh nama.
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.