Stop Calling It 'Cuma Bercanda': Normalisasi Bullying di Sekitar Kita

Bullying yang dibungkus dalih "cuma bercanda" masih marak terjadi di sekitar kita. Kenali dampak normalisasi bullying dan mengapa kita harus menghentikannya sekarang....

Stop Calling It 'Cuma Bercanda': Normalisasi Bullying di Sekitar Kita

"Eh, gue cuma bercanda kok!" Kalimat ini mungkin sudah terlalu sering kita dengar, bahkan mungkin pernah kita ucapkan sendiri. Tapi pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya: apakah sesuatu yang menyakiti orang lain bisa dibenarkan hanya dengan label "bercanda"? Di balik tawa dan keakraban yang terlihat di permukaan, ada realitas gelap yang terus tumbuh subur di tengah masyarakat kita. Normalisasi bullying yang dibungkus dengan dalih humor.

Ketika Lelucon Meninggalkan Luka

Bullying bukan hanya tentang kekerasan fisik yang meninggalkan memar atau luka. Bentuk paling berbahaya dari bullying justru yang tidak kasat mata: ejekan tentang penampilan fisik, pengucilan dari kelompok, komentar merendahkan tentang kemampuan seseorang, atau bahkan sindiran halus yang disampaikan dengan senyuman. Semua ini dilakukan dengan pembungkus "hanya bercanda" yang seolah membuat pelaku bebas dari tanggung jawab atas dampak yang ditimbulkan.

Masalahnya, korban bullying tidak merasakan hal tersebut sebagai candaan. Mereka membawa pulang rasa sakit itu, mengulanginya di dalam pikiran mereka, dan perlahan kehilangan kepercayaan diri. Beberapa mungkin mencoba untuk ikut tertawa, bukan karena mereka menganggapnya lucu, tetapi karena mereka tidak ingin terlihat "tidak bisa menerima candaan" atau takut dikucilkan lebih jauh.

Budaya yang Memelihara Pelaku

Salah satu akar masalah normalisasi bullying adalah budaya kita yang sering kali lebih memprioritaskan "keakraban" kelompok daripada kesejahteraan individu. Di lingkungan sekolah, kampus, bahkan tempat kerja, sering kali ada ekspektasi tidak tertulis bahwa kita harus bisa "menerima candaan" agar dianggap bagian dari kelompok. Mereka yang protes atau menunjukkan ketidaknyamanan malah dicap sebagai orang yang "terlalu sensitif" atau "tidak asyik".

Ketika ada konflik dan seseorang melaporkan perilaku yang membuatnya tidak nyaman, respons yang sering muncul adalah: "Ah, dia kan cuma bercanda. Jangan terlalu serius dong." Respons ini bukan hanya membungkam korban, tetapi juga memberikan legitimasi kepada pelaku untuk terus melakukan hal yang sama. Ini menciptakan siklus berbahaya di mana bullying terus berlanjut tanpa konsekuensi.

Bahkan di ruang publik, kita sering menyaksikan bagaimana figur publik atau influencer mem-bully orang lain demi konten yang "menghibur". Komentar-komentar pedas, roasting yang melampaui batas, atau prank yang memalukan. Semuanya dikemas sebagai hiburan. Ketika jutaan orang tertawa dan memberikan apresiasi, pesan yang tersampaikan adalah: bullying itu lucu, bullying itu menghibur, bullying itu bisa diterima.

Dampak Jangka Panjang yang Diabaikan

Penelitian demi penelitian telah membuktikan dampak serius dari bullying terhadap kesehatan mental. Korban bullying memiliki risiko lebih tinggi mengalami depresi, kecemasan, dan bahkan pemikiran untuk menyakiti diri sendiri. Dampaknya bisa bertahan hingga dewasa, mempengaruhi kemampuan mereka untuk membangun relasi yang sehat, percaya pada orang lain, dan berkembang secara profesional.

Namun karena bullying sering kali terjadi dalam bentuk yang "ringan" atau "bercanda", dampaknya kerap disepelekan. Korban bahkan bisa merasa bersalah karena "terlalu terpengaruh" oleh hal yang dianggap sepele oleh orang lain. Mereka mungkin tidak mencari bantuan karena merasa masalah mereka tidak cukup serius untuk dibicarakan. Akibatnya, luka emosional itu terus membesar tanpa penanganan yang tepat.

Membedakan Candaan dari Bullying

Lalu bagaimana kita membedakan candaan yang sehat dari bullying? Kuncinya ada pada dampak, bukan niat. Sebuah interaksi bisa disebut candaan yang sehat ketika semua pihak yang terlibat merasa nyaman dan senang. Tidak ada yang merasa direndahkan, dipermalukan, atau disakiti. Candaan yang sehat membangun keakraban tanpa mengorbankan harga diri seseorang.

Sebaliknya, bullying terjadi ketika ada ketidakseimbangan kekuatan. Baik secara fisik, sosial, atau psikologis. Dan, satu pihak secara konsisten menjadi target ejekan atau perlakuan negatif. Bahkan jika pelaku mengklaim "hanya bercanda", jika korban merasa terluka dan hal itu terjadi berulang kali, maka itu adalah bullying.

Di lingkungan kerja, misalnya, seorang supervisor yang terus-menerus mengejek kinerja bawahannya di depan panel ATS atau di forum terbuka bukan sedang menciptakan suasana santai, melainkan menciptakan lingkungan kerja yang toxic. Humor yang sehat tidak pernah mengorbankan martabat orang lain.

Saatnya Mengubah Narasi

Perubahan harus dimulai dari kesadaran kolektif kita. Kita perlu berhenti memberi ruang bagi perilaku yang melukai dengan dalih humor. Ketika kita menyaksikan seseorang di-bully, jangan diam saja atau ikut tertawa. Tunjukkan dukungan kepada korban dan sampaikan bahwa perilaku tersebut tidak bisa diterima.

Bagi para pelaku, saatnya untuk merefleksikan apakah "candaan" kita benar-benar menghibur semua pihak atau justru menyakiti seseorang. Jika seseorang mengatakan bahwa mereka tidak nyaman dengan candaan kita, dengarkan. Jangan malah menyalahkan mereka karena "terlalu sensitif". Empati adalah kunci untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat.

Institusi pendidikan dan perusahaan juga memiliki tanggung jawab besar. Kebijakan anti-bullying tidak boleh hanya ada di atas kertas. Harus ada mekanisme yang jelas dan aman bagi korban untuk melaporkan insiden, serta konsekuensi nyata bagi pelaku. Edukasi tentang bullying dan dampaknya perlu menjadi bagian dari kurikulum atau program pelatihan karyawan.

Jadi, apa yang bisa kita lakukan?

"Cuma bercanda" bukan pembenaran yang bisa diterima untuk perilaku yang menyakiti. Sudah saatnya kita berhenti menormalisasi bullying dalam bentuk apa pun. Setiap orang berhak merasa aman, dihormati, dan dihargai di lingkungan mereka. Tanpa harus menjadi objek lelucon yang menyakitkan.

Mari kita ciptakan budaya di mana kebaikan lebih dihargai daripada popularitas, di mana empati lebih penting daripada tawa yang dipaksakan, dan di mana setiap orang bisa berkembang tanpa takut menjadi target ejekan. Perubahan dimulai dari pilihan-pilihan kecil kita sehari-hari: memilih untuk tidak ikut menertawakan orang lain, berani membela korban, dan menyadari bahwa kata-kata kita memiliki kekuatan untuk melukai atau menyembuhkan.

Stop calling it "cuma bercanda". Mari panggil dengan nama yang sebenarnya: bullying. Dan mari kita bersama-sama menolaknya.

NulisKuy adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan tim editor.
Komentar

Silakan login untuk berkomentar.