Siapkah Dompetmu Saat Ajal Datang?

Temukan fakta biaya kematian, mengulas realita biaya kematian, tekanan bagi keluarga, hingga solusi finansial.

Siapkah Dompetmu Saat Ajal Datang?

Siapkah Dompetmu Saat Ajal Datang?

Hidup di dunia serba mahal, semua orang tahu. Dari biaya pendidikan, kesehatan, hingga kebutuhan sehari-hari, hampir tak ada yang gratis. Ironisnya, ketika napas terakhir pun terlepas, ternyata biaya masih harus dibayar. Mati pun, singkatnya, butuh biaya.

Bagi sebagian orang, kematian adalah akhir dari perjalanan panjang penuh perjuangan. Namun bagi keluarga yang ditinggalkan, kematian sering berarti awal dari serangkaian urusan administrasi, ritual, hingga pengeluaran finansial.

Kematian tidak datang sendirian. Ada serentetan konsekuensi yang menyertainya, dan sebagian besar berbentuk angka rupiah. 1. Biaya administrasi Surat keterangan kematian, izin pemakaman, hingga pengurusan dokumen lain seringkali butuh biaya. Di kota besar, mendapatkan lahan pemakaman pun bukan perkara mudah. Harga satu kavling makam bisa menyaingi harga tanah perumahan.

2. Biaya pemakaman Dari kain kafan atau peti mati, transportasi jenazah, hingga jasa gali liang lahat. Belum lagi batu nisan dan perawatan makam. Semua membutuhkan dana yang tidak sedikit.

3. Biaya rumah sakit Banyak orang meninggal setelah melalui perawatan intensif. Tagihan rumah sakit yang menumpuk bisa jadi warisan pertama yang ditinggalkan.

4. Biaya sosial dan budaya Di banyak daerah di Indonesia, tradisi seperti tahlilan, selamatan, atau acara adat setelah kematian bisa menelan biaya besar. Meski bernilai spiritual dan sosial, sering kali keluarga merasa terbebani.

Seiring perkembangan zaman, kematian pun tak lepas dari sentuhan industri. Ada layanan pemakaman modern, lengkap dengan lahan asri, batu nisan elegan, bahkan fasilitas kunjungan keluarga yang mewah. Biayanya? Jutaan hingga ratusan juta rupiah.

Tidak hanya itu, industri asuransi pun menawarkan produk khusus: asuransi kematian atau funeral service. Dengan iuran tertentu, keluarga bisa lebih tenang ketika saat itu tiba. Bagi sebagian orang, ini solusi praktis. Namun bagi yang lain, muncul pertanyaan: apakah kematian harus sedemikian mahal hingga harus “diasuransikan”?

Yang paling berat dari semua ini adalah beban bagi keluarga yang ditinggalkan. Kematian sudah cukup menorehkan luka emosional, namun beban finansial sering menambah perih.

Tak jarang muncul rasa bersalah jika tidak mampu memberikan pemakaman yang dianggap “layak”. Ada pula keluarga yang berdebat soal biaya, bahkan sampai berutang demi memenuhi tradisi atau gengsi. Pada akhirnya, duka yang seharusnya khusyuk bercampur dengan rasa tertekan karena urusan materi.

Sebagian besar agama mengajarkan kesederhanaan dalam kematian. Islam misalnya, menekankan pemakaman segera dan sederhana. Namun dalam praktik, seringkali ego sosial membuat prosesi jadi berlebihan.

Ada keluarga yang merasa harus mengadakan acara besar-besaran, seolah pemakaman megah adalah ukuran cinta dan penghormatan. Padahal, penghormatan sejati ada pada doa, bukan pesta perpisahan.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana kematian pun bisa berubah menjadi arena gengsi. Pertanyaannya, untuk siapa sebenarnya semua kemegahan itu?

Lalu, bagaimana sebaiknya kita menyikapi kenyataan bahwa mati pun butuh biaya? 1. Perencanaan keuangan Tidak ada salahnya menyiapkan tabungan atau asuransi sederhana khusus untuk kematian. Ini bukan berarti menantang maut, melainkan bentuk tanggung jawab agar keluarga tidak kerepotan.

2. Edukasi kesederhanaan Masyarakat perlu diajak memahami bahwa kesederhanaan dalam kematian tidak mengurangi makna penghormatan. Bahkan, kesederhanaan justru lebih sesuai dengan ajaran banyak agama.

3. Fokus pada yang esensial Doa, dukungan moral, dan solidaritas sosial jauh lebih penting daripada acara seremonial yang mahal.

Pada akhirnya, kematian adalah sesuatu yang pasti, sementara biaya adalah konsekuensi yang melekat di dunia. Kita bisa memandangnya sebagai beban, atau justru sebagai pengingat bahwa hidup pun harus lebih sederhana.

Hidup menuntut biaya, mati pun menagih harga. Pertanyaannya, apakah kita benar-benar menghormati yang pergi, atau sekadar menjaga gengsi yang ditinggalkan?

NulisKuy adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan tim editor.
Komentar

Silakan login untuk berkomentar.