Sedekah kepada Orang Tua dan Saudara, Apakah Sudah Cukup?
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang yang lebih sering memberi kepada orang tua, saudara, atau keluarga dekat. Entah itu dalam bentuk materi, tenaga, maupun perhatian. Namun, pertanyaan yang sering muncul adalah: apakah memberi kepada orang tua dan saudara juga tergolong sedekah? Dan bagaimana kedudukannya dibandingkan dengan berbagi kepada anak yatim?
Dalam Islam, memberi kepada orang tua bukan sekadar sedekah, tetapi termasuk bentuk bakti (birrul walidain) yang kedudukannya sangat tinggi. Rasulullah SAW bersabda bahwa ridha Allah ada pada ridha orang tua, dan murka Allah ada pada murka orang tua. Maka, ketika seorang anak membantu orang tuanya, baik dalam kebutuhan sehari-hari maupun kebutuhan khusus, itu bukan hanya bernilai sedekah, tetapi juga ibadah besar yang mendatangkan keberkahan.
Begitu pula memberi kepada saudara, khususnya yang kekurangan, termasuk bagian dari sedekah. Rasulullah SAW bersabda:
"Sedekah kepada orang miskin itu hanya sedekah. Sedangkan sedekah kepada kerabat, baginya ada dua keutamaan: pahala sedekah dan pahala menyambung silaturahmi." (HR. Tirmidzi).
Artinya, membantu keluarga dekat bukanlah sesuatu yang kecil nilainya. Justru, Islam mengajarkan bahwa memelihara keluarga terlebih dahulu merupakan bentuk prioritas sebelum meluas ke luar.
Lalu, Bagaimana dengan Anak Yatim?
Anak yatim mendapat perhatian khusus dalam Islam. Banyak ayat dan hadis yang menganjurkan umat Islam untuk menyantuni mereka. Misalnya dalam Al-Qur’an surat Al-Ma’un, Allah menegur keras orang yang menghardik anak yatim. Rasulullah SAW juga bersabda:
"Aku dan orang yang menanggung anak yatim, kedudukannya di surga seperti ini," seraya beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengah yang dirapatkan. (HR. Bukhari).
Hal ini menunjukkan bahwa menyantuni anak yatim adalah amalan besar yang mendatangkan kemuliaan di sisi Allah.
Memberi kepada orang tua dan saudara jelas termasuk sedekah, bahkan memiliki nilai tambahan karena berkaitan dengan kewajiban dan silaturahmi. Namun, membatasi sedekah hanya kepada keluarga dan kurang peduli kepada anak yatim bisa membuat kita kehilangan keseimbangan dalam ibadah sosial.
Islam mengajarkan untuk menjaga keseimbangan:
Dahulukan orang tua dan keluarga yang membutuhkan.
Jangan lupakan anak yatim, fakir miskin, dan mereka yang tidak memiliki penopang hidup.
Dengan cara ini, kita dapat meraih pahala yang lebih luas, menyeimbangkan tanggung jawab keluarga, sekaligus menjalankan kepedulian sosial yang ditekankan dalam Islam.
Memberi kepada orang tua dan saudara adalah sedekah yang bernilai sangat besar, bahkan berlipat karena mengandung pahala silaturahmi dan bakti. Namun, memperluas sedekah kepada anak yatim juga penting sebagai wujud kepedulian dan kebaikan sosial.
Maka, jangan hanya terhenti pada lingkaran keluarga. Jadikan sedekah kita lebih menyebar, sehingga kebaikan itu dirasakan lebih banyak orang, dan pahala pun semakin berlipat.
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.