Remaja Mulai Sulit Diatur? Peran Seimbang Ayah dan Ibu Jadi Kunci

Kesetaraan peran ayah dan ibu penting dalam membesarkan remaja yang sulit diatur. Kunci harmoni ada pada kerja sama dan konsistensi orang tua.

Remaja Mulai Sulit Diatur? Peran Seimbang Ayah dan Ibu Jadi Kunci

Remaja Mulai Sulit Diatur? Peran Seimbang Ayah dan Ibu Jadi Kunci 

Masa remaja adalah fase penuh gejolak. Anak mulai mencari jati diri, mencoba melawan aturan, bahkan sering kali tidak lagi patuh pada orang tua. Dalam situasi ini, kehadiran ayah dan ibu dengan peran yang seimbang menjadi sangat penting. Sayangnya, masih banyak keluarga yang membiarkan salah satu pihak, biasanya ibu, menanggung beban lebih besar dalam mengasuh remaja yang mulai susah diatur.

1. Remaja Butuh Figur Ayah dan Ibu Secara Bersamaan

Remaja tidak hanya butuh kasih sayang seorang ibu yang penuh perhatian, tetapi juga butuh ketegasan dan arahan dari ayah. Ketika salah satu peran absen, remaja akan mencari pelarian di luar rumah: teman sebaya, media sosial, atau bahkan lingkungan yang berisiko.

2. Pembagian Peran yang Seimbang

  • Ibu biasanya lebih dekat secara emosional. Ia menjadi tempat anak berbagi perasaan, mendengar keluh kesah, dan memberikan pengertian.

  • Ayah sering kali lebih efektif dalam membangun batasan dan aturan. Kehadirannya memberi wibawa yang bisa membuat anak lebih menghormati arahan keluarga.

Namun, jika ayah hanya berperan sebagai "pemberi aturan" tanpa kehangatan, atau ibu hanya berperan sebagai "tempat curhat" tanpa ketegasan, remaja akan tumbuh tidak seimbang.

3. Tantangan Mengasuh Remaja di Era Digital

Kini, remaja banyak dipengaruhi oleh gadget, media sosial, dan tren yang kadang bertolak belakang dengan nilai keluarga.

  • Ibu sering merasa kewalahan karena harus mengawasi perilaku anak sehari-hari.

  • Ayah kadang merasa perannya cukup hanya dengan menafkahi, sehingga kurang terlibat dalam interaksi harian.

 

Kesetaraan peran berarti keduanya sama-sama hadir, baik dalam mendampingi anak belajar, berdiskusi tentang masalah remaja, maupun memberi batasan yang jelas tentang penggunaan media digital.

4. Kerja Sama, Bukan Kompetisi

Kesalahan yang sering terjadi adalah ketika ayah dan ibu saling menyalahkan. Misalnya, ayah menganggap ibu terlalu memanjakan, atau ibu menganggap ayah terlalu keras. Padahal, yang dibutuhkan anak remaja adalah konsistensi aturan dan teladan yang sama dari kedua orang tuanya.

5. Kesetaraan sebagai Kunci Harmoni

Kesetaraan bukan berarti membagi tugas 50:50 secara kaku, melainkan saling mengisi kekurangan. Ada saatnya ayah menjadi pendengar yang baik, dan ada waktunya ibu berani tegas menegakkan aturan. Dengan begitu, remaja akan melihat bahwa orang tuanya adalah satu tim yang solid, bukan dua pihak yang bisa dipermainkan.

 

Membesarkan remaja memang bukan perkara mudah. Mereka bukan lagi anak kecil yang patuh, tetapi juga belum sepenuhnya dewasa. Namun, dengan kesetaraan peran ayah dan ibu, anak remaja akan merasa tetap dicintai, dipahami, sekaligus diarahkan. Di sinilah keluarga menjadi tempat yang aman, bukan sekadar rumah dengan aturan kaku.

NulisKuy adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan tim editor.
Komentar

Silakan login untuk berkomentar.