Jika Jawa punya Primbon sebagai warisan budaya berupa tulisan, Batak punya Pustaha Laklak.
Warisan budaya berupa karya tulis etnis Batak yang isinya 'ajaib'.
Pustaha Laklak ditulis diatas kayu yang dilipat dengan mode concertina, semacam akordion. Menggunakan aksara Toba, kitab ini berisi tradisi-tradisi lokal masyarakat Toba sejak berabad lampau.
Cara menggunakan ilmu hitam, ilmu putih, ilmu nujum, pengobatan tradisional dan lainnya.
Ilmu hitam masyarakat Toba bisa dipelajari dari kitab ini. Seperti 'pangulubalang', 'tunggal panaluan', 'pamunu tanduk', 'gadam' dan masih banyak lagi.
Ilmu putih diantaranya tolak bala dan pagar. Ilmu nujum juga ditulis dalam kitab ini. Masyarakat Toba memiliki ilmu astrologi tradisional mereka sendiri.
Berbagai pengobatan tradisional juga tercatat dengan rapi dalam Pustaha Laklak.
Dalam buku Media Penulisan Pustaha Laklak oleh Churmatin Nasoichan, tidak semua orang memiliki kemampuan menulis Pustaha Laklak.
Penulisnya harus terlebih dahulu melalui ritual khusus yang dipimpin datu di hari yang sudah ditentukan.
Karenanya, Pustaha Laklak merupakan kitab sakral masyarakat Toba yang sangat dihormati keberadaannya.
Pustaha Laklak saat ini dapat ditemukan di Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara. Terdapat lebih dari 200 Pustaha Laklak yang disimpan, baik di ruang pamer maupun di ruang koleksi.
Selain itu, Pustaha Laklak juga disimpan di Museum Nasional Jakarta. Ratusan Pustaha Laklak juga disimpan di museum-museum luar negeri seperti di Belanda dan Jerman.
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.