Dulu, setiap pagi aku terjaga oleh harumnya bawang yang digoreng.
Ibu selalu bangun lebih awal, memasak sambil menyanyikan lagu-lagu lama dari radio kecil yang setia menemaninya.
Kadang aku berpura-pura masih tertidur, hanya agar bisa menikmati lantunan suaranya sedikit lebih lama.
Dapur itu seperti pelindung dari dunia luar.
Dari bunyi nyaring alat masak, embun dari nasi yang mengepul, hingga tangan ibu yang tak pernah lelah menyambut hari-hariku.
Dan aku... jarang, bahkan mungkin tak pernah benar-benar mengucapkan terima kasih.
Kini, ruang itu hanya menyisakan hening.
Tak ada lagu pagi, tak tercium lagi wangi masakan yang menenangkan.
Radio itu masih berada di tempat yang sama, tetapi membisu.
Sama seperti diriku.
Setiap kali aku melangkah ke sana, bayangan ibu selalu hadir.
Seolah dia masih berdiri di sudut dapur, mengaduk masakan sambil melirik ke arahku dan menghadiahkan senyum yang hangat.
Senyum itu kini hanya bisa hidup di dalam ingatan.
Karena terkadang, kehilangan bukan tentang siapa yang pergi…
melainkan tentang tempat-tempat yang mendadak terasa hampa,
sebab sosok yang biasanya mengisinya tak lagi kembali.
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.