Aku tak pernah tahu persis kapan perasaan itu mulai tumbuh.
Mungkin saat dia menyodorkan payungnya di hari hujan pertama musim itu,
atau mungkin ketika aku diam-diam berjaga saat dia tertidur di bangku halte, menggigil diterpa angin malam.
Namanya Rara.
Gadis yang selalu tampak bersinar. Terlalu terang untuk sosok sepertiku yang lebih memilih diam dan menyimpan kata.
Dia tak pernah kehabisan cerita—tentang anak kucing liar yang ia beri makan, tentang ibunya yang cerewet tapi hangat, atau tentang lagu lama yang membuatnya menangis waktu kecil.
Dan aku? Aku mendengarkan. Selalu begitu. Karena hanya itu yang berani kulakukan.
Aku jatuh cinta padanya.
Namun ketakutanku kehilangan hubungan yang kami punya jauh lebih besar dari keberanianku untuk bicara.
Jadi aku memilih diam.
Menjadi telinga setia. Menjadi teman ‘terbaik’. Menjadi seseorang yang katanya, tak pernah pergi.
Hingga pada suatu sore, dia datang sambil tertawa, ringan seperti biasanya.
“Minggu depan aku tunangan,” ucapnya santai,
seakan ia tak tahu, kalimat itu menjatuhkanku ke jurang yang tak pernah kutunjukkan.
Aku membalas dengan senyum.
Mungkin senyum yang paling meyakinkan yang pernah kupalsukan seumur hidupku.
Dan kini, di tengah pesta yang dihiasi bunga putih dan gaun-gaun indah,
aku hanya mampu memandanginya dari sudut ruangan.
Dia terlihat luar biasa. Penuh cahaya. Bahagia. Tapi bukan milikku.
Ada keinginan untuk mendekat.
Mengucap selamat atau mungkin berpamitan.
Tapi kakiku terlalu pengecut untuk melangkah.
Sebab terkadang, yang paling melukai bukan cinta yang ditolak,
melainkan cinta yang tak pernah diberi kesempatan untuk disampaikan.
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.