Puisi: Pada Tangga Batu yang Menyimpan Nama

Andai batu bisa merasa dan meramu mantra.

Puisi: Pada Tangga Batu yang Menyimpan Nama

Dan pada bait-bait senja, 

Langkahnya tampak terburu mengejar surya

Untaian balok kayu tersusun tak cukup menarik atensinya

Ia melangkah, setahap demi setahap tanpa kesabaran

 

Padahal raut wajahnya seolah tak gentar oleh kacaunya dunia. 

Senyum tipisnya menggantung bak nirwana-

Sesaat kita lupa, bahwa gadis itu sempat hampir terjerembab. 

Ah, gadis muda dengan gemerlap pesona. 

 

Dinding-dinding gelap di sekelilingnya

berdiri seperti penjaga sunyi—

namun justru kian menampakkan

betapa terang dirinya di antara pekat itu.

 

Ada sesuatu dalam caranya menggenggam pagar:

kecermatan, kesabaran,

dan jejak kekuatan yang tak dipamerkan.

Seolah ia pernah menempuh badai

dan kini memilih tenang sebagai jawaban.

 

Orang ketiga yang menyaksikan dari jauh

akan mengira ia sedang menuju sesuatu,

padahal ia sedang kembali pada dirinya sendiri.

 

Dan pada detik itu,

angin pun berhenti barang sekejap,

sekadar memberi ruang

bagi perempuan yang membuat waktu

tak jadi tergesa.

NulisKuy adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan tim editor.
Komentar

Silakan login untuk berkomentar.