Dahulu, malam-malam kita selalu penuh cerita
tentang guru yang menyebalkan, gebetan yang sulit dibaca,
bahkan tentang mie instan varian baru yang katanya aneh tapi enak.
Kita berbagi tawa dari balik layar,
seolah jarak bukan halangan apa-apa.
Kita pernah sepakat,
bahwa persahabatan ini akan bertahan lama,
meski dunia berubah arah.
Namun, ternyata kitalah yang perlahan bergeser.
Kini, namamu masih tersimpan rapi di daftar kontakku.
Beberapa foto kita masih menetap di galeri,
tapi sudah lama tak muncul pesan darimu.
Dan aku, entah kenapa, terlalu kikuk untuk mengawali obrolan,
karena takut kamu tak membalas sehangat dulu.
Bukan karena dendam, mungkin.
Bisa jadi hidup hanya menyeret kita ke lintasan yang berbeda.
Tapi tetap saja,
terasa asing ketika seseorang yang dulu tahu segala hal tentangku,
sekarang hanya menjadi nama—yang tak pernah lagi menyapa.
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.