Di sebuah rumah sederhana, ada satu piring tua yang retak di pinggirnya. Meski retak, piring itu tetap dipakai setiap hari untuk makan. Awalnya, anak-anak sering bertanya,
“Bu, kenapa kita masih pakai piring ini? Kan sudah rusak.”
Sang ibu hanya tersenyum, lalu menjawab,
“Piring ini meski retak, masih bisa menampung nasi dan lauk kita. Selama masih bisa dipakai, berarti ia masih bermanfaat.”
Jawaban itu sederhana, tapi menyimpan makna dalam. Bukankah kita manusia juga penuh retakan—dari kelemahan, dosa, dan kekurangan? Namun Allah tetap menutupi aib kita, tetap memberi rezeki, tetap memberi kesempatan untuk berbuat baik.
Piring retak itu akhirnya menjadi pengingat setiap kali makan bersama. Ia mengajarkan bahwa kekurangan tidak membuat sesuatu jadi tak berguna. Justru dari kekurangan itulah kita belajar tentang kesabaran, keikhlasan, dan rasa syukur.
Allah berfirman:"Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa kalian dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian." (HR. Muslim)
Hati yang penuh retakan bisa kembali indah jika dihiasi dengan sabar dan syukur. Sama seperti piring retak yang tetap bermanfaat selama digunakan dengan baik.
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.