Perempuan Harus Bisa Memasak: Kewajiban Atau Desakan

menjadi perempuan tidak harus bisa memasak. tapi, kenyataannya perempuan yang tidak bisa masak menjadi bahan obrolan tetangga dan menjadi bahan bicara dalam...

Perempuan Harus Bisa Memasak: Kewajiban Atau Desakan

Menjadi prempuan apakah harus bisa memasak? Apakah perempuan diciptakan menjadi juru koki uantuk suaminya setelah menjadi seorang istri. Hal ini masih menjadi sebuah perbincangan yang hangat dibicarakan. Apalagi menjadi seorang istri di pedesaan.

Usai menempuh Pendidikan di bangku kuliah saya berniat untuk melanjutkan Pendidikan ketingkat yang lebih tinggi lagi. Namun, niat itu hancur karena pendapat orang-orang sekitar yang selalu membunuh mimpi saya sebagai seorang dosen.

“Sudah menjadi ibu, buat apa kuliah lagi.”

“Perempuan tidak perlu sekolah tinggi. Sekolah tinggi-tinggi. Pulang juga tempatnya di dapur.”

Pernyataan ini sangat membunuh mental saya sebagai seorang perempuan dan juga sebagai pecinta Pendidikan yang selalu ingin belajar dan terus berkarya.

Apa iya seorang perempuan tida boleh melanjutkan Pendidikan? Apa iya seorang perempuan hakikatnya di dapur?

Bukannya kesetaraan gander sudah diterapkan sebagai salah satu cara untuk membangun hubungan atau relasi antara perempuan dan laki-laki? Bukankah perempuan sudah boleh berkarir dan berpendidikan tinggi.

Bukankah seorang ibu yang akan melahirkan generasi yang melek pendidikan untuk perubahan bangsa ini. Bukankah juga dari seorang perempuanlah akan hadirkan seorang anak yang bisa merasa, berpikir, dan berkata-kata?

Semua hal tersebut tentu tidak bisa didapatkan dari seorang perempuan yang jago memasak saja. Bukan hanya enak dan lezatnya sebuah masakan yang akan melahirkan generasi berpendidikan. Bukannya seorang perempuan hanya memiliki kewajiban melayani. Bahkan untuk persoalan mendidik dalam rumah tangga tidak dibebankan kepada satu pihak saja, melaikan keduanya yaitu ayah dan ibu.

Lantas kenapa soal dapur dan memasak hanya di bebankan untuk seorang perempuan?

“Perempuan harus bisa masak.” Ini adalah satu syarat sakral yang harus ada pada diri seorang perempuan. Jika tidak ia akan menjadi bahan perbincaraan dalam setiap perkumpulan ibu-ibu kompleks atau menjad bahan tertawaan saat kumpul keluarga. Bukan kah kemudian hal ini akan membunuh mental seorang perempuan?

Sebagai seorang perempuan. Saya tidak mewajibkan diri saya harus bisa memasak. Karena saya terlahir sebagai perempuan yang memiliki kewajiban melayani jika sebagai seorang istri. Melayani dengan tulus untuk suami dan juga anak. Memasak itu tidak wajib, hanya sebagai kelebihan dari setiap permpuan saja. Dan itu tidak masalah jika ada seorang perempuan yang tidak bisa memasak.

NulisKuy adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan tim editor.
Komentar

Silakan login untuk berkomentar.