Pemungut Aksara

dibuang sayang.

Pemungut Aksara

Pemungut Aksara

Setiap pagi ia memunggut huruf-huruf yang terbuang:
"a" dari kaleng bekas, "u" dari kulit pisang,
"m" yang patah di pecahan kaca.
Lalu merangkainya jadi kata-kata basah
di atas meja kayu lapuk.

Anak-anak menertawakannya,
melempari karungnya dengan batu bertulis "bodoh".
Tapi ia tetap mencolek lem dari nasi sisa,
menempelkan "aku" dengan "kamu"
hingga jadi "kita" yang rekat.

Malam-malam ia berdebat dengan tikus,
soal mana lebih abadi:
surat cinta atau bungkus mi instan.
Sementara bulan menulis puisi
di punggungnya yang bongkok.

Hari ini ia kutemukan tewas
diantara tumpukan koran bekas.
Tangannya masih mencengkeram satu kalimat utuh:
"jangan buang aku dulu,
aku masih bisa jadi puisi."

NulisKuy adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan tim editor.
Komentar

Silakan login untuk berkomentar.