Suatu sore, Andi pulang kerja dengan wajah lelah. Di perjalanan, ia mampir ke warung gorengan langganan. Uang di dompet tinggal pas-pasan, hanya cukup untuk membeli lima gorengan.
Ketika penjual sedang membungkus, datanglah seorang anak kecil dengan pakaian lusuh. Ia menatap gorengan itu dengan mata berbinar. Andi menoleh ke dompetnya, lalu ke wajah anak kecil itu. Dalam hati ada pergulatan: “Kalau aku kasih, aku sendiri masih lapar. Tapi… bagaimana kalau ini rezeki si anak?”
Akhirnya, Andi menyerahkan gorengan itu pada anak tersebut sambil berkata, “Makanlah, Nak.”
Anak itu tersenyum lebar, “Terima kasih, Bang.”
Andi berjalan pulang dengan perut kosong, tapi hatinya terasa penuh.
Ikhlas itu sederhana
Ikhlas bukan soal jumlah yang kita beri, tapi niat di baliknya. Allah tidak menilai banyaknya gorengan yang diberikan, tapi ketulusan hati orang yang memberi.
> Allah berfirman:
“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya.” (QS. Saba’: 39)
Janji Allah jelas: tidak ada kebaikan yang sia-sia, meski sekecil sepotong gorengan.
Balasan yang tidak terduga
Keesokan harinya, Andi mendapat kabar bahwa ada bonus kerja yang cair lebih cepat dari perkiraan. Jumlahnya jauh lebih besar dari harga sebungkus gorengan. Saat itu ia tersenyum sendiri, “Ternyata benar, Allah ganti dengan cara-Nya yang indah.”
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.