Overthinking Itu Capek, Tapi Kenapa Kita Masih Sering Melakukannya?

Overthinking sering dianggap musuh terbesar anak muda zaman sekarang. Tapi kenapa otak kita malah nyaman berada di zona itu? Artikel ini membahas...

Overthinking Itu Capek, Tapi Kenapa Kita Masih Sering Melakukannya?

“Kenapa sih pikiran ini terus berputar di kepala?”

Mungkin pertanyaan ini sering muncul diam-diam dalam batinmu—bahkan setiap malam menjelang tidur. Di tengah ritme hidup yang serba cepat dan penuh tekanan, pikiran berlebihan (overthinking) sering hadir tanpa diundang, menjadi beban mental yang melelahkan namun sulit dilepaskan. Tapi, apa sebenarnya penyebabnya?

 

Overthinking Lebih dari Sekadar Banyak Pikiran

Banyak yang menganggap overthinking hanya berarti terlalu banyak berpikir. Kenyataannya, hal ini jauh lebih kompleks. Overthinking merupakan aktivitas mental yang membuat kita terus mengulang kejadian yang sudah lewat, menciptakan skenario masa depan yang belum tentu terjadi, atau mempertanyakan keputusan yang sebenarnya sudah dibuat.

Psychology Today menjelaskan bahwa overthinking sering muncul dari kecemasan yang tidak tersalurkan dan keinginan untuk mengontrol segala kemungkinan hasil. Ironisnya, semakin kuat usaha untuk mengendalikannya, justru semakin kacau isi kepala kita.

 

Mengapa Kita Seakan Nyaman dengan Overthinking?

Meski terdengar aneh, seringkali otak kita merasa sedang “produktif” saat terjebak dalam overthinking. Seolah kita sedang menganalisis dan menyusun strategi. Padahal, kenyataannya kita hanya terjebak dalam satu pola pikir berulang yang tidak membawa penyelesaian.

Pikiran berlebihan ini juga kerap dipicu oleh trauma masa lalu atau tekanan sosial, seperti ketakutan akan kegagalan, kehilangan, atau rasa malu. Semua pengalaman itu bisa menumpuk dan membentuk pola pikir negatif yang sulit dihentikan.

 

Konsekuensinya Serius dan Nyata

Overthinking bukan hanya mengganggu ketenangan pikiran, tapi juga dapat menurunkan kualitas tidur, menghambat produktivitas, dan dalam jangka panjang berdampak negatif terhadap kesehatan mental. Emosi bisa terkuras, stres menumpuk, bahkan risiko depresi meningkat jika kebiasaan ini terus dibiarkan.

Menurut Harvard Health, overthinking dapat memperparah gejala depresi dan gangguan kecemasan apabila tidak ditangani sejak dini.

 

Cara Melepaskan Diri dari Lingkaran Overthinking

  1. Kenali Polanya – Sadari kapan pikiranmu mulai berputar tidak karuan, misalnya saat sendirian atau menjelang tidur.

  2. Alihkan ke tindakan nyata – Ganti “bagaimana kalau gagal” dengan “apa yang bisa aku lakukan hari ini?”

  3. Tulis isi pikiranmu – Melalui journaling, kamu bisa meluapkan isi kepala dan membuatnya lebih terstruktur.

  4. Bercerita ke orang lain – Kadang, pikiran yang terasa berat hanya butuh didengar oleh seseorang.

  5. Latihan hadir di saat ini – Teknik seperti meditasi, pernapasan dalam, atau sekadar duduk tenang bisa membantu menenangkan pikiran.

 

Penutup:

Overthinking bukan pertanda kamu lemah—itu justru menandakan bahwa kamu sedang berusaha memahami dunia di sekitarmu. Hanya saja, cara yang kamu pakai sedang tersesat.

Yuk, mulai belajar membatasi pikiran dan lebih banyak bertindak. Hidup ini terlalu berharga untuk terus dihabiskan di dalam kepala sendiri.

 

NulisKuy adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan tim editor.
Komentar

Silakan login untuk berkomentar.