Orang Tua dan Remaja: Dua Dunia yang Berusaha Bertemu
Hampir setiap orang tua pernah menghadapi masa ketika anak yang dulu penurut, tiba-tiba berubah jadi pribadi keras kepala, banyak membantah, bahkan menolak aturan rumah. Tidak sedikit yang menilai itu sebagai tanda anak nakal, sementara di sisi lain remaja merasa dirinya tidak pernah dimengerti. Pertanyaan yang sering muncul adalah: remaja membangkang, salah siapa?
Bayangkan suatu sore di ruang keluarga.
Ibu baru saja menyuruh anaknya, Raisa yang berusia 15 tahun untuk berhenti bermain ponsel dan membantu membereskan dapur.
“Raisa,, taruh dulu HP-nya, bantu Ibu sebentar,” kata sang ibu.
Raisa mendengus. “Kenapa sih harus aku terus? Aku capek, Bu. Lagi asik chat sama teman!”
Nada suara meninggi, suasana pun memanas. Sang ibu merasa anaknya tidak hormat, sementara Raisa merasa Ibu tidak paham bahwa dia butuh ruang sendiri. Pada akhirnya, keduanya sama-sama marah dan memilih diam.
Kisah ini bukan cerita langka. Banyak keluarga mengalaminya, dengan berbagai versi dan situasi.
Masa remaja adalah periode pencarian identitas. Mereka mulai mempertanyakan banyak hal: “Kenapa harus begini?”, “Kenapa aku tidak boleh itu?”, atau “Kenapa aturan rumah berbeda dengan teman-temanku?”.
Bagi orang tua, pertanyaan itu terdengar seperti perlawanan. Padahal, bagi remaja, itu adalah bentuk rasa ingin tahu sekaligus usaha menegaskan diri. Jadi, perilaku membangkang sebenarnya lebih dekat pada kebutuhan mereka untuk diakui sebagai pribadi yang sedang tumbuh.
Banyak orang tua menuntut anak untuk selalu patuh, tanpa memberi ruang diskusi. Padahal, dunia remaja berbeda dengan dunia orang tua ketika muda dulu. Ketika aturan hanya diberlakukan secara sepihak, remaja merasa terkekang.
Namun, jika orang tua memberi keleluasaan tanpa batas, remaja bisa kehilangan arah. Di sinilah seni menjadi orang tua: bukan sekadar mendidik, tapi juga mendampingi, menyeimbangkan antara aturan dan kebebasan.
Selain rumah, remaja juga banyak dipengaruhi oleh teman sebaya dan media. Mereka ingin diterima dalam lingkaran sosialnya, sekaligus terpapar berbagai nilai baru yang tidak selalu sejalan dengan nilai keluarga.
Jika orang tua terlalu kaku, remaja justru mencari pelarian ke luar rumah. Tetapi jika orang tua hadir dengan komunikasi yang terbuka, rumah bisa tetap menjadi tempat paling aman bagi mereka.
Jawaban sederhana: tidak ada yang sepenuhnya salah.
-
Remaja membangkang karena ingin diakui.
-
Orang tua sering kali salah paham, menganggap pembangkangan sebagai ancaman, bukan proses pertumbuhan.
-
Lingkungan juga memberi warna, entah itu positif atau negatif.
Yang dibutuhkan bukan saling menyalahkan, melainkan saling memahami.
Daripada terjebak dalam konflik yang melelahkan, orang tua bisa mencoba mengubah benturan menjadi dialog. Caranya sederhana:
-
Mendengar sebelum menegur. Kadang remaja hanya butuh didengar, bukan langsung disalahkan.
-
Aturan yang jelas tapi fleksibel. Remaja butuh batas, tapi juga butuh ruang.
Kepercayaan yang bertahap. Jika dipercaya, mereka biasanya belajar lebih bertanggung jawab.
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.