Nasi Bungkus di Pinggir Jalan

Kadang Allah memberi pelajaran lewat hal kecil yang sering kita temui sehari-hari. Seperti seporsi nasi bungkus sederhana di pinggir jalan, yang ternyata...

Nasi Bungkus di Pinggir Jalan

Siang itu terik sekali. Seorang bapak paruh baya duduk di bangku kayu, membuka bungkus nasi sederhana yang baru saja dibelinya. Isinya tidak seberapa: nasi hangat, sepotong tempe, dan sambal. Ia makan dengan lahap, meski peluh terus mengalir di dahinya.

Tak jauh darinya, seorang anak kecil berdiri memandangi dengan tatapan penuh harap. Tubuhnya kurus, bajunya lusuh, dan kakinya tak beralas. Sang bapak yang baru saja menyendokkan nasi, menoleh dan memperhatikan. Hatinya langsung terenyuh.

Tanpa berpikir panjang, ia menggeser nasi bungkus itu.

“Dek, makanlah. Bapak masih bisa tahan lapar sedikit,” ucapnya lembut.

Anak itu terkejut, matanya berbinar. Ia pun menerima nasi itu dengan tangan bergetar, lalu mengucap lirih,

“Terima kasih, Pak… semoga Allah balas kebaikan bapak.”

Sang bapak tersenyum kecil. Meski perutnya keroncongan, hatinya terasa penuh. Dalam benaknya terngiang sebuah ayat:

"Dan mereka mengutamakan (orang lain) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu)." (QS. Al-Hasyr: 9)

Kisah sederhana itu memberi pelajaran besar—kadang memberi di saat kita sendiri butuh jauh lebih bernilai di hadapan Allah, dibanding memberi saat kita berkelimpahan.

Beberapa hari kemudian, tanpa disangka, seorang dermawan menawarkan pekerjaan baru pada bapak itu. Pekerjaan yang lebih layak dan penghasilan yang lebih baik. Hatinya kembali berbisik, “Ternyata benar, Allah tidak pernah menutup balasan untuk kebaikan sekecil apapun.”

NulisKuy adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan tim editor.
Komentar

Silakan login untuk berkomentar.