Minimnya Literasi di Zaman Sekarang: Tantangan Generasi Digital

Artikel ini membahas penyebab rendahnya minat baca dan kemampuan literasi masyarakat di era digital, dampaknya terhadap kehidupan sosial, serta langkah-langkah yang dapat...

Minimnya Literasi di Zaman Sekarang: Tantangan Generasi Digital

Di era serba digital seperti sekarang, informasi dapat diakses dengan mudah hanya melalui ujung jari. Namun, kemudahan ini justru membawa ironi: kemampuan literasi masyarakat justru menurun. Banyak orang lebih gemar menggulir layar media sosial daripada membaca buku atau artikel yang mendalam. Akibatnya, kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, dan menulis dengan baik pun ikut melemah.

Minimnya literasi tidak hanya berarti malas membaca, tetapi juga rendahnya kemampuan memahami isi bacaan dan menilai kebenaran informasi. Fenomena clickbait dan penyebaran hoaks menjadi bukti nyata bahwa sebagian masyarakat tidak lagi terbiasa menyaring informasi dengan cermat. Padahal, literasi bukan sekadar membaca, melainkan juga kemampuan menganalisis, menafsirkan, dan menggunakan informasi untuk kehidupan sehari-hari.

Beberapa faktor penyebab rendahnya literasi di zaman sekarang antara lain:

 

  1. Dominasi media sosial – konten singkat dan visual membuat orang terbiasa dengan informasi instan.

  2. Kurangnya kebiasaan membaca sejak dini – anak-anak lebih sering disuguhkan gadget daripada buku.

  3. Minimnya fasilitas literasi – perpustakaan dan ruang baca masih belum menjadi tempat favorit di banyak daerah.

  4. Budaya konsumtif terhadap informasi – masyarakat lebih suka menerima daripada menggali pengetahuan secara mendalam.

    Dampak dari rendahnya literasi sangat luas. Di dunia pendidikan, siswa kesulitan memahami teks dan berpikir kritis. Dalam kehidupan sosial, mudah sekali terjadi kesalahpahaman dan perpecahan akibat informasi palsu. Bahkan di dunia kerja, minimnya literasi bisa menurunkan daya saing karena kurangnya kemampuan analisis dan komunikasi.

    Untuk mengatasi hal ini, perlu langkah nyata dari berbagai pihak. Sekolah harus menumbuhkan budaya membaca dan menulis secara menyenangkan, bukan sekadar kewajiban. Keluarga perlu memberi contoh, misalnya dengan menyediakan waktu membaca bersama. Pemerintah dan komunitas juga dapat menghadirkan ruang literasi yang menarik, seperti taman baca, pojok literasi digital, atau lomba menulis kreatif. Literasi harus dipandang sebagai kebutuhan, bukan sekadar hobi. Dengan literasi yang baik, masyarakat mampu berpikir kritis, berempati, dan berpartisipasi aktif dalam membangun bangsa.

NulisKuy adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan tim editor.
Komentar

Silakan login untuk berkomentar.