Menjaga Gen Z Tetap Membumi di Era Media Sosial yang Penuh Ilusi

Peran orang tua dalam membimbing Gen Z di zaman media Sosial yang semakin maju.

Menjaga Gen Z Tetap Membumi di Era Media Sosial yang Penuh Ilusi

Generasi Z (lahir antara 1997–2012) dikenal sebagai generasi digital native. Mereka tumbuh dengan gawai, internet, dan media sosial sejak kecil. Rata-rata anak muda Indonesia menghabiskan lebih dari 3 jam per hari di media sosial.

Namun, di balik akses yang luas terhadap informasi, muncul persoalan baru: media sosial sering menghadirkan tren yang tidak relevan dengan realitas hidup. Dari gaya hidup mewah yang tak sesuai kondisi ekonomi, standar kecantikan yang tak realistis, hingga konten sensasional yang miskin nilai edukatif. Situasi ini menimbulkan tantangan besar bagi orang tua dalam mendampingi anak-anak Gen Z agar tidak terjebak pada ilusi dunia maya.

Media sosial memang menawarkan hiburan, jejaring, dan informasi. Tetapi di sisi lain, banyak konten yang membentuk tekanan sosial baru, misalnya:

  • Kehidupan glamor influencer yang membuat remaja merasa rendah diri.

  • Tren konsumtif seperti “haul barang branded” atau “healing mewah” yang tak sejalan dengan kondisi ekonomi keluarga.

  • Standar tubuh ideal yang sering tidak sehat dan mendorong insecure.

Remaja mengaku pernah merasa cemas atau tertekan karena perbandingan dengan apa yang mereka lihat di media sosial. Inilah bukti bahwa dunia maya seringkali menjauhkan anak-anak dari realitas hidup sehari-hari.

Di era digital, orang tua tidak cukup hanya melarang atau mengawasi. Peran mereka lebih luas, yakni mengarahkan, menjadi teladan, dan membangun literasi digital.

Beberapa langkah strategis yang bisa dilakukan orang tua:

  • Membangun komunikasi terbuka. Anak perlu ruang bercerita tanpa takut dihakimi, sehingga orang tua bisa memahami dunia yang mereka konsumsi.

  • Mengajarkan literasi digital. Anak harus bisa membedakan antara informasi valid, hoaks, dan konten manipulatif.

  • Memberi contoh nyata. Orang tua yang bijak menggunakan media sosial akan lebih mudah diterima keteladanannya.

  • Menekankan nilai kehidupan nyata. Misalnya mengajak anak berinteraksi langsung dengan lingkungan, membantu kegiatan sosial, atau sekadar melatih kemandirian di rumah.

Anak-anak Gen Z perlu memahami bahwa dunia maya bukanlah tolok ukur kehidupan. Orang tua bisa menekankan:

  • Kebahagiaan tidak diukur dari likes atau followers.

  • Kesuksesan butuh proses, bukan sekadar viral.

  • Hubungan nyata dengan keluarga dan teman lebih berharga daripada validasi digital.

Mendorong anak untuk aktif dalam kegiatan offline seperti olahraga, organisasi sekolah, atau hobi kreatif dapat membantu mereka menyeimbangkan dunia maya dan dunia nyata.

Tidak bisa dipungkiri, sebagian orang tua juga “gagap digital”. Banyak yang belum memahami algoritma media sosial, padahal anak-anak sudah lebih dulu menguasainya. Oleh karena itu, orang tua pun perlu belajar bersama—bukan sekadar menggurui. Dengan begitu, nasihat mereka terasa lebih relevan dan tidak “ketinggalan zaman”.

Gen Z memang hidup di era media sosial yang penuh distraksi. Banyak tren yang tidak relevan dengan kondisi hidup mereka, tetapi tetap dikonsumsi tanpa filter. Di sinilah peran orang tua sangat krusial: bukan hanya membatasi, melainkan membimbing dan menguatkan anak untuk tetap berpijak pada realita.

Mendidik anak di era digital berarti membekali mereka dengan literasi, ketahanan mental, dan nilai hidup yang kokoh. Dengan begitu, media sosial bisa menjadi sarana belajar dan hiburan—bukan jebakan yang menjauhkan mereka dari kehidupan nyata.

NulisKuy adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan tim editor.
Komentar

Silakan login untuk berkomentar.