Menikah Muda di Lombok: Antara Adat, Cinta, dan Risiko Hidup
Di Pulau Lombok, tradisi menikah muda masih menjadi fenomena yang kuat. Banyak pasangan yang memutuskan melangkah ke pelaminan di usia belia, sebagian karena adat, sebagian karena cinta, dan sebagian lagi karena dorongan nafsu. Pertanyaannya, apakah menikah muda benar-benar solusi, atau justru masalah baru yang disamarkan oleh romantisme?
1. Antara Adat dan Budaya.
Dalam budaya Sasak di Lombok, praktik merarik (kawin lari) masih melekat. Ada anggapan bahwa menikah di usia muda adalah bagian dari menjaga kehormatan dan kelestarian adat. Namun, sering kali adat dijadikan alasan tanpa mempertimbangkan kesiapan pasangan itu sendiri. Budaya seharusnya menjadi identitas, bukan beban yang memaksa generasi muda untuk mengambil keputusan tergesa-gesa.
2. Cinta yang Manis di Awal.
Tidak dapat dipungkiri, cinta muda terasa manis dan penuh semangat. Banyak pasangan merasa yakin bahwa cinta dapat menaklukkan segalanya. Namun, apakah cinta saja cukup? Tanpa kesiapan mental menghadapi konflik rumah tangga, cinta bisa berubah menjadi luka. Persoalan komunikasi, perbedaan cara pandang, hingga tekanan ekonomi kerap membuat cinta yang manis berubah getir kehidupan.
3. Nafsu yang Menjebak.
Dorongan keinginan biologis sering menjadi alasan tersembunyi di balik pernikahan muda. Nafsu yang dianggap sebagai cinta sejati, nyatanya bisa pudar begitulah realitas hidup berumah tangga datang menghantam. Pernikahan yang dibangun atas dasar nafsu tanpa pertimbangan matang berisiko kandas lebih cepat.
4. Mental dan Finansial yang Belum Siap.
Pernikahan bukan hanya soal dua hati yang bersatu, tetapi juga dua pikiran yang harus siap menghadapi tanggung jawab besar.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS, 2022), angka perkawinan anak di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) masih mencapai 16,23%. Artinya, dari 100 perempuan berusia 20–24 tahun, lebih dari 16 orang menikah sebelum usia 18 tahun. Angka ini menunjukkan bahwa banyak pasangan menikah di usia muda sebelum memiliki kesiapan finansial maupun mental.
Adapun laporan UNICEF (2021) juga menekankan bahwa perkawinan anak berhubungan erat dengan kemiskinan, rendahnya pendidikan, serta meningkatnya risiko kekerasan dalam rumah tangga.
5. Haruskah Tetap Berlanjut?
Pertanyaan besar yang harus dijawab: apakah menikah muda harus terus dilestarikan hanya karena adat, cinta, atau nafsu?
Menikah adalah ibadah, tetapi ibadah yang membutuhkan kesiapan lahir dan batin. Jika belum siap mental dan finansial, menikah muda bisa menjadi awal penderitaan, bukan kebahagiaan.
Menikah muda di Lombok memang masih menjadi realitas. Namun, sudah saatnya generasi muda berani bertanya pada diri sendiri: “Apakah aku menikah karena benar-benar siap, atau sekadar mengikuti arus adat?”; “Apakah cintaku cukup kuat menghadapi badai kehidupan?”; dan “Apakah aku hanya terburu-buru karena nafsu?”
Jawaban jujur atas pertanyaan-pertanyaan itu akan menentukan, apakah pernikahan muda menjadi berkah atau justru petaka.
NulisKuy adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan tim editor.
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.