Banyak orang tumbuh dengan imajinasi sederhana: “Kalau aku menikah, semua masalah terkait hawa nafsu otomatis selesai.” Seolah-olah akad nikah adalah tombol ajaib yang bisa menghapus kebiasaan buruk, menenangkan hati, dan memagari diri dari zina. Padahal, realitas tidak sesederhana itu.
Pernikahan adalah ibadah besar, penuh berkah, dan menjadi penjaga kehormatan manusia. Namun, pernikahan bukan alat sulap. Ia tidak otomatis mengubah seseorang yang sejak lama bermasalah dengan pandangan, kebiasaan, dan godaan. Bila fondasi taqwa rapuh, rumah tangga pun akan ikut rapuh.
Zina Selalu Dimulai dari Hal yang “Kecil”
Zina tidak pernah hadir tiba-tiba. Ia jarang muncul sebagai langkah besar. Ia bermula dari hal-hal kecil yang diabaikan:
- dari mata yang dibiarkan menikmati apa yang haram,
- dari scroll media sosial yang tidak dijaga,
- dari percakapan yang awalnya “cuma bercanda,”
- dari DM balasan yang niatnya “cuma ramah,”
- dari rasa penasaran yang tidak diputus di awal.
Perlahan, batasan yang tadinya tegas menjadi kabur. Hati jadi biasa dengan godaan, dan tiba-tiba seseorang merasa sulit berhenti. Itulah sebabnya taqwa bukan pilihan—tapi kebutuhan.
Jika Menjaga Pandangan Sulit Sekarang, Akan Sulit Setelah Menikah
Banyak yang menyangka: “Aku susah jaga pandangan karena belum menikah. Kalau sudah punya pasangan, pasti selesai". Padahal, para ulama sejak dulu sudah menjelaskan bahwa nafsu tidak berhenti hanya karena seseorang sudah halal bagi kita. Karena masalahnya bukan “tidak punya pasangan,” tetapi kebiasaan yang tidak dilatih.
Jika sebelum menikah, seseorang terbiasa:
- menonton hal-hal yang merusak hati,
- konsumsi visual tidak sehat,
- flirty di chat,
- menikmati validasi dari lawan jenis,
Maka setelah menikah, kebiasaan itu tidak hilang seperti sulap. Bahkan sering menjadi pemicu konflik, rasa tidak aman, dan keretakan rumah tangga. Banyak rumah tangga hancur bukan karena kurang cinta, tetapi karena pasangan tidak pernah berlatih menjaga diri sebelum akad.
Pernikahan adalah pakaian yang indah, tetapi taqwa lah yang menjadi kulit—melekat langsung pada diri, menjaga dari dalam.
Jangan Mencari Pasangan untuk “Menyelamatkan” Kamu
Kadang orang menjadikan pernikahan sebagai pelarian: untuk menyembuhkan diri, menenangkan hati, atau menutupi kelemahan. Padahal, pasangan bukan penyelamat spiritual. Mereka bukan perisai yang bisa melawan godaan yang kamu biarkan tumbuh lama.
- Pasangan bisa mendampingi, tapi tidak bisa menggantikan hubunganmu dengan Allah.
- Pernikahan bisa memberi kenyamanan, tapi tidak bisa menggantikan latihan disiplin diri yang harus dimulai sejak sebelum akad.
Taqwa: Penjaga yang Tidak Pernah Tidur
- Taqwa membuat seseorang waspada meski sendirian.
- Taqwa menahan langkah bahkan ketika tidak ada orang yang melihat.
- Taqwa membuat hati merasa cukup pada yang halal, dan resah pada yang haram.
- Taqwa membuat pernikahan bukan sekadar “halal”, tapi juga berkah.
Karena pada akhirnya: pernikahan adalah ibadah, tapi taqwa adalah pondasinya. Pernikahan memberi ketenangan, tetapi taqwa memberi penjagaan.
Zina tidak berhenti karena seseorang menikah.
Zina berhenti ketika seseorang memilih Allah.
Karena pernikahan adalah anugerah, tetapi taqwa adalah benteng.
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.