Mengurai Benang Kusut: Memahami Pertengkaran Anak Dan Orang Tua

Hubungan antara anak dan orang tua sering kali diwarnai oleh dinamika yang kompleks.

Mengurai Benang Kusut: Memahami Pertengkaran Anak Dan Orang Tua

Pertengkaran, perbedaan pendapat, dan kesalahpahaman adalah hal yang lumrah. Namun, ketika pertengkaran ini menjadi sering, dan anak merasa tidak pernah didengar atau didukung, hubungan tersebut bisa menjadi rapuh. Artikel ini akan membahas akar masalah di balik pertengkaran ini dan dampaknya pada anak, serta memberikan panduan untuk membangun komunikasi yang lebih sehat.

Akar Masalah: Mengapa Pertengkaran Terjadi?

Pertengkaran antara anak dan orang tua jarang terjadi tanpa alasan. Seringkali, ini berakar pada ketidaksesuaian ekspektasi dan kebutuhan.

• Perbedaan Perspektif: Anak, terutama di masa remaja, sedang dalam tahap mencari identitas. Mereka ingin mandiri dan membuat keputusan sendiri. Sementara itu, orang tua, dengan pengalaman dan kekhawatiran mereka, cenderung ingin mengontrol atau memberikan nasihat. Perbedaan cara pandang ini sering menjadi pemicu konflik.

• Komunikasi yang Buruk: Salah satu akar masalah terbesar adalah kegagalan dalam berkomunikasi. Ketika orang tua hanya berbicara dan tidak mendengarkan, atau sebaliknya, pesan yang ingin disampaikan tidak sampai dengan baik. Kalimat-kalimat seperti "Kamu tidak pernah mendengarkan saya!" atau "Saya tahu yang terbaik untukmu!" bisa menjadi bom waktu dalam percakapan.

• Ekspektasi yang Tidak Realistis: Orang tua sering memiliki ekspektasi tinggi terhadap anak, baik dalam hal akademis, perilaku, atau pilihan hidup. Ketika anak tidak mampu memenuhi ekspektasi tersebut, mereka bisa merasa gagal dan terkekang, yang memicu frustrasi dan pertengkaran.

Dampak Psikologis pada Anak yang Tidak Didengar

Ketika anak merasa suaranya tidak pernah didengar dan dukungannya tidak pernah dirasakan, dampaknya bisa sangat merusak secara psikologis.

• Rendahnya Harga Diri: Anak-anak yang terus-menerus dikritik atau diabaikan akan mulai meragukan nilai diri mereka. Mereka mungkin merasa bahwa pendapat atau perasaan mereka tidak penting, yang berujung pada rendahnya harga diri.

• Kecemasan dan Depresi: Perasaan tidak didukung bisa memicu kecemasan dan depresi. Anak mungkin merasa sendirian dalam menghadapi masalah mereka, tidak tahu harus berpaling ke siapa, dan merasa putus asa.

• Kesulitan Membangun Hubungan: Pengalaman negatif dengan orang tua dapat membentuk pola hubungan yang tidak sehat. Anak mungkin menjadi sulit percaya pada orang lain atau, sebaliknya, terlalu bergantung pada validasi dari orang lain.

• Perilaku Pemberontakan: Sebagai respons terhadap perasaan tidak didengar, anak bisa menunjukkan perilaku pemberontakan. Ini adalah cara mereka untuk mengambil kendali kembali dan menarik perhatian, meskipun dengan cara yang negatif.

Membangun Kembali Hubungan yang Sehat

Meskipun sulit, tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki hubungan. Berikut adalah beberapa langkah yang bisa diambil oleh orang tua dan anak:

• Mendengarkan dengan Empati: Orang tua perlu belajar mendengarkan anak tanpa menghakimi. Cobalah untuk memahami sudut pandang mereka, bahkan jika Anda tidak setuju. Gunakan kalimat seperti, "Saya mengerti kenapa kamu merasa seperti itu."

• Komunikasi Asertif: Belajarlah untuk mengungkapkan kebutuhan dan kekhawatiran tanpa menyerang. Hindari penggunaan kata "selalu" atau "tidak pernah." Fokus pada perasaan Anda sendiri, misalnya, "Saya merasa khawatir ketika kamu pulang larut malam."

• Tunjukkan Dukungan Nyata: Dukungan tidak selalu berupa persetujuan. Dukungan bisa berarti hadir, memvalidasi perasaan anak, atau membantu mereka mencari solusi, bahkan jika pilihan mereka berbeda dari harapan Anda.

• Terapkan Batasan yang Sehat: Komunikasi yang sehat juga mencakup batasan. Orang tua bisa menetapkan aturan, tetapi harus menjelaskannya dengan alasan yang logis. Anak pun harus belajar menghormati batasan yang ada.

Pada akhirnya, hubungan antara orang tua dan anak adalah sebuah perjalanan. Mengakui bahwa ada masalah, berkomitmen untuk mendengarkan, dan saling mendukung adalah langkah pertama menuju hubungan yang lebih kuat dan harmonis.

NulisKuy adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan tim editor.
Komentar

Silakan login untuk berkomentar.