Zohran Mamdani, 33 tahun, anggota Majelis Negeri New York dan Demokrat Sosialis, menciptakan guncangan besar dalam pemilihan pendahuluan calon walikota New York City (24 Juni 2025), saat ia berhasil mengalahkan mantan gubernur Andrew Cuomo dengan perolehan suara 43,5% dibanding 36,4% . Kemenangan ini bukan sekadar kejutan—ini menunjukkan pergeseran nyata dari mesin politik tradisional ke politik kelas, akar rumput, dan progresif.
Mamdani membangun keberhasilannya melalui kampanye yang berbasis dukungan langsung masyarakat: penggalangan dana kecil, relawan door-to-door, konten video modern & “sassy” di media sosial, dan penggunaan suara multibahasa . Fokus utama kampanye: tarif bus gratis, penundaan sewa, pelayanan groseri milik kota, dan pajak progresif—semua secara terang-terangan dijadikan pesan inti yang mudah diingat .
Kemenangan ini merupakan tantangan langsung terhadap panggung politik tradisional Demokrat. Meski Cuomo didukung miliaran dolar dari super PAC, Bloomberg, dan donor besar, tak mampu mengatasi momentum akar rumput Mamdani . Momentum ini meliputi dukungan dari Bernie Sanders dan Alexandria Ocasio-Cortez .
Namun, kemenangan itu juga menuai serangan keras. Mamdani menghadapi tekanan Islamofobia dan ancaman kekerasan dari tokoh politik konservatif serta kritik label “antisemitik” saat ia menentang kebijakan Israel di Gaza dan paket sanksi terhadap Netanyahu . Aksi kampanye politiknya juga memicu reaksi di komunitas diaspora India, setelah mengkritik Perdana Menteri Modi sebagai “penjahat perang” terkait insiden Gujarat .
Meski tantangan ke depan begitu kompleks—terutama di kancah umum melawan Eric Adams (sebagai independen), Curtis Sliwa, Cuomo yang mungkin kembali, dan pasar media yang waspada—Mamdani masih dianggap unggul . Ia dipandang sebagai model baru gerakan progresif, yang memadukan mobilisasi massa dan kebijakan ekonomi populis, sekaligus menegaskan bahwa partai Demokrat bisa dibangkitkan kembali lewat gerakan sosial yang kuat .
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.