Makin Banyak Orang ‘Resign Diam-Diam’! Fenomena Quiet Quitting Mengancam Dunia Kerja

Karyawan tampak hadir, tapi diam-diam sudah "mengundurkan diri" secara mental. Fenomena quiet quitting ini sedang jadi mimpi buruk HR di seluruh dunia....

Makin Banyak Orang ‘Resign Diam-Diam’! Fenomena Quiet Quitting Mengancam Dunia Kerja

Quiet Quitting: Ketika Bekerja Sesuai Porsi Disebut Sebuah Gerakan

Fenomena Baru di Dunia Kerja

Dulu, orang yang bekerja sesuai jam dan menolak lembur dianggap kurang berdedikasi. Namun kini, perilaku seperti itu menjadi bagian dari fenomena global yang dikenal sebagai quiet quitting.

Fenomena ini bukan sekadar tren media sosial, melainkan cerminan dari kondisi lingkungan kerja yang makin tidak sehat.

Quiet Quitting: Apa Artinya?

Quiet quitting bukan berarti benar-benar mengundurkan diri dari pekerjaan. Istilah ini merujuk pada sikap pekerja yang menjalankan tanggung jawab sesuai kontrak—tanpa berinisiatif lebih, tanpa ambisi berlebihan, dan hanya mengerjakan apa yang memang menjadi hak dan kewajiban mereka.

Fenomena ini merebak setelah pandemi COVID-19, saat banyak pekerja mulai menyadari bahwa hidup tidak hanya tentang kerja tanpa henti hingga kelelahan mental dan fisik.

Data dan Fakta Lapangan

Laporan Gallup Global Workplace 2023 menyebutkan bahwa hanya 21% karyawan secara global merasa benar-benar terlibat secara emosional dalam pekerjaan mereka.

Di Indonesia, hasil survei LinkedIn tahun 2024 menunjukkan bahwa 41% generasi milenial dan Gen Z pernah melakukan quiet quitting karena mengalami kelelahan emosional atau mental.

Deloitte Insights 2024 mengungkapkan bahwa 56% perusahaan di Asia Tenggara mengalami penurunan produktivitas yang mereka kaitkan langsung dengan tren quiet quitting.

Pandangan Para Ahli

“Quiet quitting bukan karena karyawan kehilangan semangat, tapi karena ekspektasi kerja yang tidak realistis dan melelahkan.”

— Adam Grant, Profesor Psikologi Organisasi, Wharton School

“Bukan berarti generasi muda tidak mau bekerja keras. Mereka hanya sudah terlalu sering diminta setia, tanpa kompensasi atau penghargaan yang layak.”

— Farah Dini, Psikolog Industri & Organisasi

Akar Masalah Quiet Quitting

Beberapa penyebab utama dari tren ini antara lain:

  • Beban kerja yang berlebihan hingga menyebabkan burnout
  • Minimnya apresiasi terhadap hasil kerja
  • Kurangnya kesempatan untuk berkembang secara profesional
  • Budaya organisasi yang tidak sehat, seperti kontrol berlebihan (micromanagement)

Apakah Ini Ancaman atau Peringatan?

Quiet quitting bukan sesuatu yang harus ditakuti, melainkan peringatan bagi perusahaan untuk berbenah. Ini bisa menjadi momen penting untuk:

  • Membangun budaya kerja yang lebih manusiawi dan mendukung
  • Mengutamakan kesehatan mental serta keseimbangan hidup karyawan
  • Menyediakan ruang untuk pertumbuhan pribadi dan profesional, bukan sekadar mengejar target tanpa henti. 

Kesimpulan

Quiet quitting adalah respons wajar dari pekerja terhadap sistem kerja yang tak lagi seimbang. Daripada memaksa loyalitas tanpa timbal balik, mungkin sudah saatnya perusahaan mendengarkan kebutuhan karyawannya—bukan hanya menuntut, tapi juga memberi ruang bernapas.

NulisKuy adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan tim editor.
Komentar

Silakan login untuk berkomentar.