"Lucky Girl Syndrome": Kekuatan Afirmasi atau Sekadar Ilusi?
Dalam beberapa hari terakhir, media sosial, khususnya di platform TikTok, diramaikan dengan tren yang disebut "Lucky Girl Syndrome" (LGS). Istilah ini merujuk pada sebuah pola pikir atau mindset yang positif dalam meyakini bahwa dengan terus-menerus menyatakan diri sebagai orang yang beruntung, maka keberuntungan dan hal-hal baik akan benar-benar datang. Bermodalkan keyakinan itu, mereka jadi lebih bisa optimis, percaya diri, dan nantinya akan lebih mudah mendapat peluang bagus.
Namun, apa sebenarnya LGS ini, dan apakah ia benar-benar merupakan kunci untuk hidup yang lebih "hoki"?
Apa Itu Lucky Girl Syndrome?
Istilah ini lebih tepat disebut sebagai sebuah fenomena yang berakar pada konsep afirmasi positif dan Law of Attraction/Hukum Tarik-Menarik. Pola pikir positif dapat memengaruhi bagaimana dengan cara kita bertindak. Orang yang menekuni syndrom ini biasanya akan merasa “lucky” dan biasanya lebih berani mengambil peluang, lebih bisa melihat sesuatu dalam sisi yang baik.
Inti dari LGS adalah keyakinan yang diucapkan dan diyakini secara konsisten: "Saya orang yang sangat beruntung, dan hal-hal baik selalu terjadi pada saya."
Orang yang menganut LGS ini percaya bahwa dengan mengubah pola pikir mereka menjadi sangat positif dan optimis, mereka dapat memancarkan energi yang akan menarik peristiwa-peristiwa positif—seperti mendapatkan pekerjaan impian, kesempatan langka, atau hal baik lain yang tak terduga ke dalam hidup mereka.
Cara Menerapkan Lucky Girl Syndrome Dalam Kehidupan Sehari-hari:
• Afirmasi Harian: Mengucapkan kalimat positif seperti, "Aku selalu beruntung" atau "Hal-hal baik datandatang padaku."
• Visualisasi: Membayangkan secara jelas hasil dan tujuan yang diinginkan seolah sudah terjadi.
• Rasa Syukur: Fokus pada hal-hal baik yang sudah dimiliki dan yakini bahwa lebih banyak lagi akan datang.
• Ambil Aksi Positif: Mindset positif harus diiringi tindakan nyata. Seperti mencari peluang, meningkatkan skill, dan bergaul dengan orang yang mendukungmu.
Mengapa LGS Layak Dicoba?
1. Membentuk Self-Fulfilling Prophecy
Ketika Anda meyakinkan diri akan keberuntungan Anda, secara tidak sadar Anda akan mulai bertindak seolah-olah hal tersebut benar. Keyakinan itulah yang meningkatkan kepercayaan diri dan keberanian untuk mengambil risiko dan memanfaatkan peluang.
2. Mengubah Fokus dan Persepsi (RAS)
Otak kita memiliki sistem yang disebut Reticular Activating System (RAS), yang bertindak sebagai filter informasi. Dengan memfokuskan pikiran pada keberuntungan dan hal-hal positif, Anda akan lebih fokus pada solusi daripada terjebak di masalah.
3. Mengurangi Kecemasan dan Negativitas
Afirmasi positif dapat membantu otak untuk melawan pikiran negatif yang bersarang. Pola pikir yang lebih santai dan optimis membuat seseorang lebih bisa menghadapi hal yang terjadi dalam hidupnya dengan lebih tenang.
Sisi Gelap yang Perlu Diwaspadai
Walaupun LGS mampu mem-booster mental dengan cukup efektif, tapi tetap harus bijak karena pasti ada potensi dampak negatif yang ditimbulkan jika dilakukan terlalu extrem:
1. Toxic Positivity
LGS dapat mengarah pada sikap toxic positivity yang di mana seseorang menjadi memiliki keharusan untuk tetap ceria dan mengabaikan emosi negatif yang sedang dirasakan (seperti marah, sedih, atau kecewa). Padahal, menerima dan memproses emosi negatif adalah bagian penting dari kesehatan mental.
2. Mengabaikan Aksi Nyata
Salah satu hal penting dari LGS yang kadang keliru dipahami adalah munculnya sudut pandang bahwa cukup hanya dengan berpikir, tanpa perlu kerja keras atau take action, semua hal-hal baik itu akan terjadi. Afirmasi tanpa aksi hanya akan menjadi ilusi kosong yang berujung pada kekecewaan terhadap keadaan.
3. Mengabaikan Ketidakadilan Realita
LGS berisiko mengabaikan fakta bahwa hidup tidak selalu adil. Keberuntungan, kesuksesan, dan kegagalan seringkali dipengaruhi oleh faktor eksternal yang memang tidak akan bisa kita kendalikan. Ketika hasil yang diharapkan tidak tercapai, seseorang bisa menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi.
Cara Bijak Menerapkan Lucky Girl Syndrom
Alih-alih menunggu keajaiban, gunakanlah syndrom ini sebagai alat booster mental. Terapkan prinsipnya dengan seimbang:
1) Afirmasi + Aksi: Gunakan afirmasi positif untuk membangun kepercayaan diri, tetapi harus disertai dengan aksi nyata. Misalnya, afirmasi: "Aku akan memiliki pekerjaan yang hebat" harus diikuti dengan aksi: meningkatkan keterampilan dan giat melamar kerja.
2) Tetap Realistis: Akui bahwa kegagalan adalah bagian yang tidak bisa kita hindari dari hidup. Alih-alih menyalahkan diri sendiri, anggap kegagalan itu sebagai peluang untuk evaluasi dan menyusun ulang strategi yang lebih kokoh.
3) Hargai Proses: Fokus pada usaha dan proses, sekecil apapun yang Anda lakukan, bukan hanya terpaku pada hasil akhir. Mengamalkan LGS dalam hidup Anda berarti menjadi seseorang yang memiliki pola pikir tangguh dan siap memanfaatkan peluang.
Lucky Girl Syndrome bukan sekadar tren viral yang bisa Anda coba terapkan. Ini adalah salah satu cara untuk memiliki pola pikir yang lebih percaya diri, optimis, dan terbuka pada setiap peluang baru.
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.