Seringkali aku bertanya dalam diam,
mengapa dunia terasa begitu memberatkan,
padahal aku tak menenteng beban apa pun?
Langkahku lambat bukan karena fisikku lemah,
melainkan karena aku kehilangan arah tujuan.
Setiap pagi, aku terjaga,
mencoba menyusun rutinitas seperti potongan teka-teki
yang tak kunjung membentuk gambar utuh.
Di hadapan orang lain, senyumku terpasang,
meskipun jauh di dalam dada, aku hanya ingin membisu.
Ada kalanya aku merasa iri pada gerimis,
yang bisa jatuh tanpa harus memberi alasan.
Atau pada angin,
yang mampu pergi tanpa harus menjelaskan kepergiannya.
Namun meski letih membalut tubuh dan jiwa,
aku tetap melanjutkan langkah.
Bukan karena aku kuat,
melainkan karena aku sadar
berhenti takkan pernah mengantarku pulang.
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.